Dra. I. Mufidah, M.Pd
Tetap semangat dalam berkarya
 
 

Link Lain

 
 

Pengunjung

348315
 

NOVEL SUPERNOVA EPISODE AKAR KARYA DEWI LESTARI KAJIAN UNSUR-UNSUR INTRINSIK SASTRA

NOVEL SUPERNOVA EPISODE AKAR

KARYA DEWI LESTARI

KAJIAN UNSUR-UNSUR  INTRINSIK SASTRA

 

 

KARYA TULIS ILMIYAH

Sebagai Tugas Akhir Bahasa Indonesia Tahun Ajaran 2012-2013

 

 

  

 

Oleh :

 

ALMADINDA VIOLITA SARAJIVO

12215


SEKOLAH MENENGAH NEGERI ATAS 16

TAHUN AJARAN 2012-2013

SURABAYA

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1  Latar Belakang

Sastra adalah karya seni yang dikarang menurut standar bahasa kesusastraan. Standar kesusastraan yang dimaksud adalah penggunaan kata-kata yang indah, gaya bahasa serta gaya cerita yang menarik. Sastra juga merupakan lembaga sosial yang memakai medium bahasa dalam menampilkan gambaran kehidupan dan kehidupan itu sendiri adalah kehidupan sosial.

Suatu karya sastra tercipta tidak dalam kekosongan sosial budaya. Artinya, pengarang tidak dengan tiba-tiba mendapat berkah misterius yang kemudian dengan elegannya menciptakan suatu karya sastra. Suatu karya sastra tercipta lebih merupakan hasil pengalaman, pemikiran, refleksi, dan rekaman budaya pengarang terhadap sesuatu hal yang terjadi dalam dirinya sendiri dan masyarakat. Karya sastra juga merupakan suatu kerucutisasi subjektif pengarang dalam memberikan suatu ide, pemikiran, pesan, dan gagasan terhadap suatu hal.

Dalam dunia kesusastraan selalu identik dengan penjiwaan baik itu dari tingkat emosi pengarang maupun dari penikmat karya sastra. Hasil karya sastra tertentu merupakan hasil khayalan pengarang yang sedang mengalami keadaan jiwa tertentu (Hardjana, 1981:65). Dari sinilah disimpulkan bahwa karya sastra merupakan sebuah bentukan (out put) dari proses pemikiran (imajinatif) pengarang dalam mengapresiasi untuk menjadi sesuatu yang estetik.

Pengetahuan akan unsur yang membentuk karya sastra pun sangat diperlukan untuk memahami karya sastra secara menyeluruh. Hadirnya suatu karya sastra tentunya agar dinikmati oleh para pembaca. Untuk dapat menikmati sebuah karya secara sungguh-sungguh dan baik diperlukan seperangkat pengetahuan akan karya sastra. Tanpa pengetahuan yang cukup penikmatan akan sebuah karya hanya bersifat dangkal dan sepintas karena kurangnya pemahaman yang tepat.

Menurut jenisnya sastra dibagi menjadi dua, yaitu sastra fiksi dan sastra non fiksi.Fiksi adalah kisah cerita yang diemban oleh pelaku-pelaku yang tertentu yang bertolak dari imajinasi pengarang sehingga menjalin suatu cerita. Dengan demikian karya sastra fiksi merupakan suatu karya sastra naratif yang bersifat rekaan, khayalan, sesuatu yang tidak ada dan terjadi bukan karena keadaan yang nyata sehingga tidak perlu dicari kebenarannnya, karena tokoh, peristiwa, tempat yang mendukung cerita itu seluruhnya bersifat imajiner.

Salah satu karya cerita fiksi adalah novel. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, novel adalah suatu karangan prosa yang bersifat cerita yang menceritakan suatu kejadian yang luar biasa dan kehidupan orang-orang.

Ada dua unsur yang membangun dan sangat berpengaruh dalam novel, yaitu unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik. Unsur intrinsik adalah unsur-unsur yang membangun karya sastra itu sendiri atau dengan kata lain unsur-unsur yang secara langsung turut serta membangun cerita. Unsur-unsur yang dimaksud misalnya, tema, plot, latar, penokohan, sudut pandang penceritaan, bahasa atau gaya bahasa, dan lain-lain. Sedangkan unsur ekstrinsik adalah unsur-unsur yang berada di luar karya sastra itu, tetapi secara tidak langsung mempengaruhi karya sastra tersebut atau dengan kata lain dapat dikatakan sebagai unsur-unsur yang mempengaruhi bangun cerita sebuah karya sastra, namun tidak ikut menjadi bagian di dalamnya.

1.2.      Rumusan Masalah

Novel tetralogi Supernova Episode Akar karya Dewi Lestari merupakan salah satu novel sastra Indonesia yang berhasil meraih penghargaan national best seller. Novel Supernova Episode Akar ditunjukan untuk konsumsi pembaca yang ingin mencari jati dirinya. Selain itu novel Supernova Episode Akar ditunjukkan bagi mereka yang suka berpindah-pindah tempat agar tidak mudah terserang virus wertenesasi.

Dilatari hal tersebut di atas, maka timbul gagasan untuk meneliti Novel Supernova Episode Akar,maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:

1.2.1. Apakah unsur intrinsik sudah sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar?

1.2.2. Mengapa unsur intrinsik dalam novel Supernova Episode Akar karya Dewi Lestari perlu dianalisis?

1.2.3. Apa saja yang ada dalam unsur intrinsik novel Supernova Episode Akar karya Dewi Lestari?

1.3.      Tujuan dan Manfaat Penelitian

1.3.1. Tujuan Penelitian

Tujuan suatu penelitian haruslah tepat sasarannya. Adapun tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut:

1.3.1.1. Mengetahui unsur intrinsik yang sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar.

1.3.1.2. Mengetahui novel Supernova Episode Akarkarya Dewi Lestari yang perlu dianalisis.

1.3.1.3. Mengetahui apa saja yang ada dalam unsur intrinsik novel Supernova Episode Akarkarya Dewi Lestari

1.3.2. Manfaat Penelitian

Penelitian yang baik haruslah memberikan manfaat. Adapun manfaat-manfaatyang dapat diberikan oleh penelitian ini sebagai berikut ini:

1.3.2.1. Manfaat teoritis, yaitu akan memperkaya khasanah ilmu pengetahuan khususnya dalam pengkajian karya sastra.

1.3.2.2. Manfaat praktis, 1.) Bagi pembaca dan penikmat sastra: penelitian novel Supernova Episode Akar karya Dewi Lestari ini dapat digunakan sebagai bahan perbandingan dengan analisis-analisis unsur intrinsik karya sastra yang telah ada sebelumnya. 2.) Bagi pendidikan, penelitian ini diharapkan mampu digunakan oleh guru bahasadan Sastra Indonesia di sekolah sebagai materi ajar khususnya materi sastra

1.4. Hipotesis

Penelitian novel Supernova Episode Akar karya Dewi Lestari mengajukan hipotesis sebagai berikut:

1.4.1. Ada kesesuaian mengenai unsur intrinsik  dengan kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar.

1.4.2. Ada unsur intrinsik dalam novel Supernova Episode Akar karya Dewi Lestari yang  perlu dianalisis.

1.4.3. Adanya penjelasan unsur intrinsik dalam novel Supernova Episode Akarkarya Dewi Lestari.

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

                                                                              

“Sastra adalah suatu kegiatan kreatif, sebuah karya seni” (Wellek dan Warren, 1993:3) yang mengandung unsur keimajinatifan yang nilaiestetikanya bernilai dominan. Sastra itu adalah sebuah rekaan, hasil cipta sesorang sebagai ungkapan penghayatan ke dalam wujud bahasa. “Sastra memiliki beberapa ciri, yaitu kreasi, otonom, koheren, sintesis, dan mengungkapkan hal yang tidak teruangkapkan” (Noor, 2011:17), dengan kata lain sastra membantu mengungkapkan apa yang dirasa seseorang. Selain itu, sastra juga mempunyai berbagai manfaat sesuai kebutuhan pembacanya. Salah satu manfaat sastra antara lain estetis, pendidikan, kepribadian batin atau sosial, menambah wawasan, pengembangan kejiwaan atau kepribadian, dan lain-lain.

Sastra memiliki banyak fungsi namun yang utama adalah “fungsi sastra harus dikaitkan pada dulce maupun pada utile karna jika kedua fungsi itu dipisahkan akan memberi gambaran yang keliru” (Wellek dan Werren, 1993:25). Maksudnya  sastra tidak hanya mendidik, tetapi sastra juga berperan dalam hal menghibur.Dengan demikian, jika kita membaca sastra, maka kita akan mendapatkan hiburan sekaligus hal yang bermanfaat bagi pembentukan karakter kita. Untuk mendapatkan manfaat dari sastra, maka pembaca perlu menganalis karya sastra itu dari segi unsur intrinsik karya sastra.

2.1. Teori Unsur Intrinsik Sastra

Karya sastra merupakan salah satu cerminan nilai-nilai budaya dan tidak terlepas dari sosial budaya serta kehidupan masyarakat yang digambarkannya. “Sastra menyajikan gambaran kehidupan, dan kehidupan itu sendirisebagian besar terdiri dari kenyataan sosial” (Noor, 2011:27).  Kenyataan sosial yang ada disekitar pengarang dapat mempengaruhi isi karya yang diciptakannya. Hal ini lah yang membuat suatu karya sastra berkesan lebih nyata dan tidak dibuat-buat.

Berdasarkan jenis-jenis sastra, novel juga termasuk dalam karya sastra. Novel memiliki 2 unsur sentral, unsur intrinsik dan unsur ekstrisik, yang dibutuhkan untuk membuat novel tersebut menjadi karya sastra yang utuh,  bagus dan menarik.

Unsur intrinsik adalah unsur-unsur yang membangun karya sastra itu sendiri. “Unsur-unsur inilah yang membuat karya sastra hadir sebagai karya sastra dan secara faktual akan dijumpai jika orang membaca karya sastra” (Nurgiantoro, 1995:23). Hal ini disebabkan karena unsur intrinsik berpengaruh besar dalam membuat karya sastra. Oleh sebab itu unsur intrinsik menjadi salah satu dari dua unsur pembangun sentral suatu karya sastra. Unsur-inur intrinsik meliputi:

2.1.1. Sinopsis

            Sinopsis adalah ringkasan cerita. Ringkasan cerita adalah pendekatan dari sebuah cerita atau karangan dengan tetap memperhatikan unsur-unsur intrinsik karangan tersebut. Membuat ringkasan cerita adalah hal yang efektif untuk menyajikan karangan seperti novel-yang panjang dalam bentuk yang singkat.

            Dalam sinopsis, keindahan gaya bahasa, ilustrasi, dan penjelasan-penjelasan dihilangkan, tetapi tetap mempertahankan isi dan gagasan umum pengarangnya.

            Sinopsis biasanya dibatasi oleh jumlah halaman, misalnya dua atau tiga halaman, seperlima atau sepersepuluh dari panjang karangan asli.

2.1.2. Tema

Dalam karya sastra tema merupakan gagasan atau pikiran utama yang kemudian dikembangkan dengan alur cerita. Begitu pula pada novel, tema dalam novel berjasa untuk memberikan gambaran garis besar bagaimana jalan cerita yang ditulis dalam novel itu sendiri. Hampir semua gagasan yang ada dalam kehidupan ini bisa dijadikan tema. Sekalipun dalam praktiknya tema-tema yang diambil adalah beberapa aspek atau karakter dalam kehidupan ini. Tema biasanya mempersoalkan kehidupan manusia yang dipengaruhi oleh persoalan-persoalan dari suatu corak masyarakat tertentu. “Persoalan itu dapat berupa persoalan politik, sosial, kebudayaan, dan ekonomi” (Nurgiyantoro, 1995:67). Persoalan yang kompleks dapat menjadi tema yang kuat dan bagus untuk dikembangkan menjadi suatu karangan.

“Tema adalah gagasan dasar umum yang menompang sebuah karya sastra dan yang terkandung didalam teks sebagai sturktur sistematik dan yang menyangkut persamaan-persamaan atau perbedaan-perbedaan” (Hartoko dan Ruhmanto, 1986:68). Kemudian gagasan itu dikembangkan menjadi sebuah paragraf yang padu. Dari beberapa paragraf yang padu itu nantinya dapat dirangkai menjadi sebuah karangan.

Dari uraian diatas, dapat ditarik kesimpulan bahwa tema adalah ide pokok atau gagasan pokok yang berperan penting dalam sastra.

2.1.3. Plot atau Alur Cerita

            Dalam sebuah karya sastra, penulis selalu menceritakan sautu konflik secara rapi dan sistematik. Untuk melakukan hal itu, penulis membutuhkan alur atau plot. “Alur atau plot bukan sekedar urutan cerita dari awal sampai akhir saja melainkan lebih dari itu karena merupakan hubungan sebab akibat antara peristiwa lainnya” (Rusyana, 1984:67). Plot berfungsi untuk mengurutkan cerita secara kronologis tanpa bersifat menjelaskan namun tidak menghilangkan apapun yang ada dalam cerita.

            Berdasarkan kriteria urutan waktu, plot atau alur cerita dibedakan menjadi tiga, yaitu:

1.) Plot lurus (plot maju atau plot progresif): plot ini berisi peristiwa-peristiwa yang dikisahkan secara kronologis, peristiwa pertama diikuti peristiwa selanjutnya atau cerita runtut dimulai dari tahap awal sampai tahap akhir. 2.) Plot sorot balik (plot flashback atau plot regresif): plot ini berisi tentang peristiwa-peristiwa yang diceritakan secara tidak urut. 3.) Plot campuran: plot ini berisi tentang pengganbaran peristiwa-peristiwa secara plot progresif dan plot regresif.

Berdasarkan jalan cerita plot dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu:

1.) Plot Ledakan yaitu plot yang akhir ceritanya mengejutkan dan tak terduga-duga. 2.) Plot Lembut yaitu plot yang akhir ceritanya berakhir tanpa adanya kejutan. 3.) Plot Campuran yaitu plot yang akhir cerita menggabungkan kedua plot sebelumnya (ledakan & lembbut).

Plot yang dilihat dari segi sifatnya dapat dibagi menjadi tiga, yaitu:

1.) Plot Terbuka, yaitu akhir cerita yang dapat merangsang pembaca untuk mengembangkan jalan cerita. 2.) Plot Tertutup, yaitu akhir cerita yang tidak dapat merangsang pembaca untuk mengembangkan jalan cerita. 3.) Plot Campuran, yaitu penggabungan antara plot terbuka dan plot tertutup.

Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa plot adalah urutan peristiwa-peristiwa berdasarkan sebab dan akibat.

2.1.4. Setting (Latar)

            Latar adalah lingkungan, dan lingkungan-terutama interior rumah-dapat dianggap berfungsi sebagai metosemia, atau metomonia, ekspresi dari tokohnya. “Latar juga berfungsi sebagai penentu pokok: lingkungan dianggap sebagai penyabab fisik dan sosial, suatu kekuatan yang tidak dapat dikontrol oleh individu” (Wellek dan Werren, 1993:291). Latar berperan dalam menjaga keutuhan cerita dalam karya sastra seperti novel.  Faktor latar belakang tidak sepenting plot, perwatakan, atau bahasa, tetapi dapat memberi sumbangan yang berharga. “Kadang-kadang latar dapat bersifat simbolis, misalnya sebuah bilik melambangkan isolasi dari dunia sehingga bilik menjadi sesuatu yang lebih dari sekedar bilik” (Sudiati dan Widyamartaya, 2005:99).

            Fungsi dari latar itu sendiri adalah latar dapat mencangkup keterangan-keterangan mengenai keadaan sosial dan tempat dimana peristiwa itu terjadi. Selain itu, latar berfungsi memberi ruang gerak pada tokoh juga berfungsi untuk menghidupkan cerita. “Latar juga dapat berfungsi sebagai penentu pokok: lingkungan dianggap sebagai penyebab fisik dan sosial, suatu  kekuatan yang tidak dapat dikontrol oleh individu” (Wellek dan Werren, 1993:291). Dalam latar ini, pengarang menampilkan tokoh-tokoh dan peristiwa-peristiwa yang selain berkaitan untuk membangun cerita yang utuh.

            Kemunculan latar dalam cerita disebabkan adanya peristiwa, kejadian, juga adanya tokoh. Tokoh dan peristiwa membutuhkan tempat berpijak, membutuhkan keadaan untuk menunjukan kehadirannya.

Menurut aspeknya, latar dibagi menjadi 3, yaitu:

1.)  Latar tempat: Latar tempat ini adalah lokasi dimana para tokoh sedang melakukan konflik, baik itu konflik batin, fisik, atau psikis. Sesuai dengan sebutannya, latar ini berhubungan dengan interior maupun eksterior suatu bangunan. Kadang, ada juga penulis yang memilih alam terbuka untuk latar tempat novel atau cerpennya. Bahkan, kadangkala penulis menggunakan tempat angan-angan untuk dijadikan latar dalam ceritanya (imajiner). 2.) “Latar waktu: terdiri dari waktu cerita (fable time) yaitu seluruh rentangan atau jangkauan waktu yang digunakan dalam suatu cerita, dan waktu penceritaan (narrative time) yaitu lamanya waktu yang terdapat di dalam cerita, maka waktu (narrative time) penceritaan adalah lamanya waktu yang digunakan untuk menceritakan cerita atau membacanya” (Satoto, 1994:42). 3.) Latar suasana: penjelasan tentang suasana pada saat konflik terjadi. Latar suasana dapat berupa suasana sedih, duka, tegang, dan bahagia.

2.1.5. Penokohan

Tokoh dalam karya sastra sangat vital, apalagi dalam karya sastra fiksi ataupun sastra lisan. Tokoh adalah subjek yang berlakon sesuai alur dalam cerita itu sendiri. Tokoh dalam novel layaknya aktor dalam film. Seorang tokoh yang memiliki peran penting dalam suatu cerita disebut dengan tokoh utama atau tokoh inti. “Sedangkan tokoh yang memiliki peranan tidak penting karena pemunculannya hanya sebagai pelengkap atau sebagai tokoh yang mendukung pelaku tokoh utama disebut pelaku figuran” (Azies, 2010:60). Meskipun disebut sebagai pelengkap, namun tokoh ini juga berperan untuk membuat cerita semakin kompleks dan terkesan alami.

            Dalam mengenali tokoh dalam novel, dapat dilakukan dengan berbagai cara. Salah satunya tokoh novel muncul dari kalimat-kalimat yang mendeskripsikannya, dan dari kata-kata yang diletekannya di bibirnya oleh si pengarang (Wellek dan Werren, 1993:19). Selain itu tokoh dapat dianalisis dari penampilan dan kebiasaan. Dalam novel-seperti dalam dramaada tokoh-tokoh yang mirip sekolompok sandiwara: ada sang pahlawan laki-laki dan wanita sebagai tokoh utamanya, ada tokoh jahat, ada tokoh “aktor” (“tokoh humor” atau tokoh adegan lucu untuk penyelang [comic relief]).

            Tokoh dalam sastra dibedakan menjadi tiga, yaitu:

1.) Tokoh Protagonis: Tokoh protagonis dalam karya sastra berperan sebagai tokoh yang utama atau yang memimpin dalam cerita. Tokoh ini adalah tokoh yang selalu membawa amanat baik. Selalu menjadi panutan tokoh-tokoh lain dalan cerita. “Cara mengenali tokoh ini bisa dengan cara yang sangat sederhana, yaitu pemberian nama. Setiap ”sebutan” adalah sejenis cara memberi memberikepribadian, menghidupkan” (Wellek dan Werren, 1995:287). Misalnya, Pak Sabar—dari namanya dapat diketahui bahwa Pak Sabar berkepribadian sabar dan selalu membawa amanat baik.

2.) Tokoh Antagonis: Tokoh antagonis berbeda seratus delapan puluh derajat dengan tokoh protagonis. Disini, tokoh antagonis berperan untuk lebih membuat cerita menarik dengan sifatnya yang selalu membuat kerusuhan, kerusakan, dan selalu membuat ketegangan.Meskipun begitu, penulis selalu memasangkan tokoh antagonis dan tokoh protagonis dalam cerita.

3.) Tokoh Tritagonis: Meskipun hanya sebagai tokoh pelengkap, tokoh ini juga sangat berguna itu menjadi “pemanis” dalam sebuah cerita. Tokoh tritagonis umumnya menjadi penengah. Tokoh ini sering dimunculkan sebagai orang ketiga dalam cerita.

2.1.6.Perwatakan

            Setiap tokoh mempunya watak masing-masing. Watak itu yang mempermudah pembaca untuk memvisualisasikan bagaimana keseluruhan tokoh tersebut. “Tokoh dan watak dalam karya sastra sangat berkaitan erat. Jelas, ada semacam kaitan anatara penokohan (metode sastra) karakterologi (teori tentang watak dan tipe kepribadian)” (Wellek dan Werren, 1993:289). Karena setiap tokoh harus memiliki watak agar tokoh itu dapat hidup dan memerankan peranan sesuai yang diinginkan penulis.

Penampilanwatak yang dilakukanolehpengarangadatigamacamcarayaitu :

1.) Cara Analitik:yaitupengarangsecaralangsungmemaparkanwataktokoh-tokohnya. Misalnya, pengarangmenyebutkanwataktokoh yang pemarah, otoriter, sombong, kasar, dansebagainya. 2.)Cara Dramatik:yaituwataktokohdapatdisimpulkandaripikiran, cakapan, perilakutokoh, bahkanpenampilanfisik, lingkunganatautempattokoh, caraberpakaiandanpilihannamatokoh, dansebagainya.3.)Cara Campuran:yaitugambaranwataktokohmenggunakancaraAnalitikdanDramatiksecarabergantian.

2.1.7. Sudut Pandang

            “Sudut pandang adalah hubungan yang terdapat antara pengarang dengan pikiran atau perasaan pembaca” (Tariga, 1984:140). Sudut pandang merupakan cara penulis menyampaikan gagasannya terhadap suatu masalah. Kemudian masalah atau konflik itu dikelompokan menurut kronologisnya dan dikembangkan sesuai daya imajiner pebgarang tanpa harus menghilangkan inti cerita.

Sudut pandang dibedakan menjadi tiga, yaitu :

1.) Orang pertama pelaku utama, dalam sudut pandang ini umumnya menggunakan kata ganti aku atau saya. Dalam hal ini penulis seakan-akan terlibat dalam cerita dan bertindak sebagai tokoh cerita. 2.) Sudut pandang orang ketiga pelaku utama, umunya sudut pandang ini menggunakan kata ganti dia, nama orang yang dijadikan sebagai titik berat tokoh.

            Dengan demikian sudut pandang adalah teknik dari penempatan pengarang dan cara pengarang melihat konflik-konflik dalam cerita.

2.1.8. Amanat

            Amanat adalah pesan moral yang terkandung dalam suatu karya sastra. Amat sangat erat hubungannya dengan tema. Amanat dapat disampaikan secara langsung oleh penulis, dapat juga disampaikan tidak langsung. Amanat umumnya mencerminkan pandangan hidup penulis yang bersangkutan, pandangan tentang apa yang baik dan apa yang buruk-yang ingin disampaikan oleh penulis. “Melalui cerita, sikap, dan tingkah laku tokoh-tokoh itulah pembaca diharapkan dapat mengambi hikmah dari pesan-pesan moral yang disampaikan atau diamanatkan” (Noor, 2011:64-65).Dalam hal ini perlu adanya pemisahan antara amanat baik dan amanat buruk, sehingga pesan moral yang dimaksud penulis benar-benar dimengerti oleh pembaca.

 

BAB III

METODE PENELITIAN

 

Dalam penelitian ini akan di paparkan cara penelitian yang meliputi; pendekatan penelitian, objek penelitian, dan sistematika penlisan.

3.1. Pendekatan Penelitian

            Penelitian unsur intrinsik novel Supernova Episode Akarkarya DewiLestari mempergunakan pendekatan kualitatif. Pendekatan kualitatif ialah prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati (Moleong, 2000:3)

Penelitian kualitatif memiliki ciri-ciri sebagai berikut: 1.) latar alami sebagai sumber langsung data 2.) manusia sebagai alat (instrumen) 3.) bersifat deskriptif 4.) analisis data secara induktif 5.)menekankan makna sebagai perhatian utama (Moleong, 2000:4). Berdasarkan ciri-ciri penelitian kulitatif seperti tersebut di atas, maka penulis menetapkan metode penelitian kualitatif untuk meneliti novel Supernova Episode Akar yang ditinjau dari unsur intrinsik dengan alasan berikut: 1.) pendeskripsian unsur intrinsik yang membangun dalam novel Supernova Episode Akar mempergunakan novel Supernova Episode Akar sebagai sumber langsung data. Data di ambil dari novel yang diteliti, 2.) peneliti sendiri yang bertugas sebagai pengumpul data utama. 3.) data disajikan  dalam bentuk deskripsi (kutipan-kutipan) untuk memberikan gambaran yang jelas dan bukan berupa angka-angka.

3.2. Objek Penelitian

Objek penelitian sastraadalah pokok atau topik penelitian sastra (Sangidu, 2004: 61). Objek penelitian ini adalah unsur intrinsik dalam novel Supernova Episode Akar karya Dewi Lestari yang diterbitkan oleh Truedee Books, cetakan tahun 2012.

 

 

 

3.3. Teknik Pengumpulan Data

3.3.1. Data

Data penelitian, sebagai data formal adalah kata-kata,kalimat, wacana (Ratna, 2004: 47). Data yang dikumpulkan dalam analisis deskriptif berupa kata-kata, gambar, dan bukan angka-angka. Hal ini disebabkan oleh adanya penerapan metode kualitatif (Moleong, 2002: 16). Wujud data dalam penelitian ini berupa kata-kata, frasa, kalimat, dan wacana yang terdapat dalam novel Supernova Episode Akar karya Dewi Lestari.

3.3.2. Sumber Data

Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data kepustakaan yaitu berupa buku, transkrip, majalah, dan lain-lain. Hal ini sejalan dengan perincian sebagai berikut.

3.3.2.1. Sumber data primer

Sumber data primer merupakan sumber utama data(Siswantoro, 2004:140). Sumber data primer penelitian ini adalah novel Supernove Episode Akar karya Dewi Lestari, terbitan Truedee Books, catatan tahun 2012.

3.3.2.2. Sumber data sekunder

Sumber data sekunder merupakan sumber data kedua(Siswantoro, 2004: 140). Sumber data sekunder dalam penelitian ini yaitu data-data yang bersumber dari buku-buku acuan yang berhubungan dengan permasalahan yang menjadi objek penelitian.

3.3.2.3. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitianini adalah teknik pustaka, simak, dan catat. Teknik pustaka adalah teknik yang menggunakan sumber-sumber tertulis untuk memperoleh

data (Subroto, 1992: 42). Data diperoleh dalam bentuk tulisan, yang harus dibaca, disimak, hal-hal yang penting dicatat kemudian juga menyimpulkan dan mempelajari sumber tulisan yang dapat dijadikan sebagai landasan teori dan acuan dalam hubungan dengan objek yang akan diteliti. Teknik simak dan catat berarti peneliti sebagai instrumenkunci melakukan penyimakan secara cermat, terarah dan teliti terhadapsumber data primer, yakni teks novel Supernova Episode Akar untukmemperoleh data yang diinginkan. Hasil penyimakan itu dicatat sebagai data. Dalam data yang dicatat itu disertakan pula kode sumber datanya untuk pengecekan ulang terhadap sumber data ketika diperlukan dalam rangka analisis data.

3.3.2.4. Teknik Analisis Data

Analisis data dalam penelitian kualitatif dilaksanakansecara terus-menerus, sejak pengumpulan data di lapangan sampai waktu penulisan laporan penelitian (Aminuddin, 2011: 18). Analisis yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan teknik pembacaan semiotika yakni pembacaan heuristik dan hermeneutik.

Pembacaan heuristik merupakan cara kerja yang dilakukan oleh pembaca dengan menginterpretasikan teks sastra secara referensial lewat tanda-tanda linguistik (Sangidu, 2004: 19). Pembacaan heuristik juga dapat dilakukan secara struktural.Pembacaan ini berasumsi bahwa bahasa bersifat referensial, artinya bahasa harus dihubungkan dengan hal-hal nyata.

Pembacaan hermeneutik atau retroaktif merupakankelanjutan dari pembacaan heuristik untuk mencari makna. Metode ini merupakan cara kerja yang dilakukan oleh pembaca dengan bekerja secara terus-menerus lewat pembacaan teks sastra secara bolak-balik dari awal sampai akhir. Salah satu tugas hermeneutik adalah menghidupkan dan merekonstruksi sebuah teks dalam yang melingkupinya agar sebuah pernyataan itu tidak mengalami aliensi dan menyesatkan.

Langkah awal analisis novel Supernova Episode Akar, yaitumemaparkan strukturnya dengan menggunakan metode pembacaan heuristik, pada tahap ini pembaca dapat menemukan arti secara linguistik. Selanjutnya dilakukan pembacaan hermeneutik, yaitu peneliti bekerja secara terus-menerus lewat pembacaan teks sastra secara bolak-balik dari awal sampai akhir untuk mengungkapkan unsur intrinsik yang membangun novel Supernova Episode Akar.

Pelaksanaan penelitian ini menggunakan kerangka berpikirinduktif. Metode induktif adalah

metode dengan langkah-langkah menelaah terhadap fakta-fakta yang khusus, peristiwa yang konkret kemudian dari fakta-fakta yang khusus itu di balik, digeneralisasikan yang mempunyai sifat umum. Realisasicara berpikir induktif, yaitu dengan membaca novel SupernovaEpisode Akar terlebih dahulu untuk menemukan peristiwa-peristiwayang dialami tokoh utama novel Supernova Episode Akar, kemudian dihubungkan degan kejadian-kejadian dalam kehidupan nyata.

3.4. Sistemetika Penulisan

Sistematika penulisan laporan penelitian ini adalah sebagai berikut: 1.) Bab I: pendahuluan, memuat antara lain latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian. 2.) Bab II berisi tentangpembahasan unsur intrinsik secara umum yang terdiridari kutipan-kutipan dari buku literatur sastra dan kalimat penjelas. 3.) Bab III memuatantara lain pendekatan penelitian, objek penelitian, teknik pengumpulan data, dan sistematika penulisan. 4.) Bab IV merupakan bab inti dari penelitianyang akan membahas analisis unsur intrinsik dalam novel Supernova Episode Akar karya Dewi Lestari. 5.) Bab V merupakan bab terakhir di dalam bab ini akan memuat kesimpulan dan saran.

 

BAB IV

UNSUR INTRINSIK  

NOVEL SUPERNOVA EPISODE AKAR  

KARYA DEWI LESTARI

 

Novel Supernova Episode Akar dipilih dalam penelitian ini karena sangat menarik untuk dikaji. Kelebihan novel Supernova Episode Akar terletak pada ceritanya yakni tentang keteguhan prinsip yang dimiliki oleh Bodhi sebagai tokoh utama dalam novel ini. Keteguhan itu terkadang harus dipertahankan Bodhi ditengah suasana-suasana yang selalu berganti dan sangat  kuat untuk mempengaruhinya ketika dia sedang mencari pengalaman dalam hidupnya. Bodhi harus dapat mempertahankan segala sesuatu terlebih yang menyangkut tentang kepercayaannya dan pedoman hidupnya. Di sisi lain, Bodhi juga harus dapat membaur dan berinteraksi dengan orang disekelilingnya yang memang berbeda, baik tingkah laku maupun kebudayaan.

Bodhi sebagai tokoh utama dalam novel ini juga memiliki kelebihan dibalik semua serangan arus westernisasi(kehilangan jiwa nasionalisme, mencontoh budaya bangsa lain) yang dialaminya. Teman-temannya pada saat itu memprofilkan dirinya sebagai sosok yang sederhana dan mempunyai pendirian yang teguh. Bodhi juga dijadikan sebagai simbol dari aliran punk straight edge, karena walaupun sebagai salah satu pengikut aliran punk, dia tidak pernah merokok, tidak minum alkohol, tidak memakai obat terlarang, tidak menganut seks bebas, dan vegetarian (Lestari, 2012:35).

Kelebihan yang dimiliki Dewi Lestri sebagai penulis novel ini, yaitu penulis dapat menggambarkan setiap detail-detail konflik yang terjadi dengan kata-kata yang bersifat eksplisit (gamblang), sehingga pembaca serasa larut dalam kisah Bodhi. Hingga dapat merasakan ikut perpetualangan di dalamnya.

Masalah lain yang menarik untuk dikaji dalam novel Supernova Episode Akar antara lain, yaitu: tempat-tempat yang dikunjungi Bodhi dalam rangka mencari kesejatian hidupnya sangat menarik dan tidak monoton. Berawal dari vihara yang didiami Bodhi selama 18 tahun, kemudian menjadi cleaning service di sebuah hotel di Belawan, pergi ke Penang dengan pasport made in Ompung Berlin, kemudian ke Bangkok, Laos, Golden Triangle, Bangkok-Trat, Kamboja, dan kembali ke Indonesia-Jakarta.

            Berdasarkan uraian di atas, maka penulis akan menganalisis unsur intrinsik yang terdapat dalam novel Supernova Episode Akar.

4.1. Unsur Intrinsik Novel Supernova Episode Akar

Novel Supernova Episode Akar karya Dewi Lestari memiliki unsur instrinsik yang sangat menarik. Penulis mengungkapkan perjalanan tokoh Bodhi dalam mencari kesejatiannya dengan penggambaran yang tidak mainstream. Mulai dari tema yang menjadi pokok utama jalan cerita yang ada dalam novel ini. Alur cerita yang terdiri dari perpaduan plot progesif dan plot regresif. Bukan hanya itu, Dewi Lestari dengan lihai menggambarkan kondisi Bodhi dengan bahasa-bahasanya yang membuat pembaca seakan larut dalam cerita itu. Amanat yang terkandung dalam novel ini sangat bermanfaat bagi setiap umat beragama. Terlebih lagi gaya bahasa yang digunakan Dewi Lestari yang begitu khas dan eksplisit, hal ini pula yang menjadi salah satu daya tarik novel ini. Dan masih banyak sekali hal-hal yang menarik dalam novel ini, yang menarik untuk dianalisis unsur intrinsik dari novel ini.

4.1.1. Sinopsis Novel Supernova Episode Akar

Bodhi terlahir sebagai yatim piatu, dia dibesarkan oleh Guru Liong di Vihara di daerah Pasuruan, Jawa Timur. Pada umurnya ke 18, Bodhi berniat untuk mencari kesejatian hidupnya. Petualangannya dimulai ketika Bodhi menjadi cleaning service di sebuah hotel di Belawan. Berbekal paspor made in Ompung Berlin, Bodhi berpetualang menjadi backpacker. Bodhi pergi ke Bangkok. Bodhi tinggal di penginapan Srinthip bersama sejumlah backpackers. Masuklah Kell di peginapan Srinthip. Kell mengajari Bodhi bagaimana cara mentatto seseorang. Dari mentatto itulah  sekarang Bodhi bisa mendapatkan uang.

Seorang backpacker asal Hollywood bernama Star datang untuk menginap di Srinthip. Star meminta Bodhi untuk mentatto dirinya di payudaranya. Dalam proses penatottan payudara Star, Star selalu berusaha menggoda Bodhi. Bodhi selalu membaca mantra suci dalam hatinya untuk menahan godaan setan. Setelah itu, Star langsung check out dari Srinthip.

Bodhi melanjutkan perjalanan pencarian kesejatian hidupnya. Kali ini dia pergi ke Laos. Di Laos, Bodhi bertemu dengan laki-laki tua pengasuh Bob Marley. Selain itu, Bodhi juga bertemu Tristan. Mereka berdua bekerja di ladang ganja di Golden Triangle dengan upah USD 700 per minggu. Sekian bulan di sana Bodhi memiliki cukup uang untuk melanjutkan kembara berikutnya.

Bodhi ingin bertemu dengan Kell. Dia memutuskan  untuk kembali ke Bangkok tapi sayangnya dia tidak menemukan Kell. Bodhi terdampar di sebuah pertarungan di Golden Triangle hanya demi menolong seorang laki-laki yang telah menyalamatkannya dari teror Khmer Merah.

Perjalanan Bodhi dilanjutkan kembali. Kali ini Bodhi sedang menyusuri daratan ranjau. Disana dia bertemu dengan Epona, gadis penakluk ranjau. Disana pula dia bertemu dengan Kell. Ketika peralatan pendeteksi ranjau perlu direparasi. Epona, Kell, Neang, dan Bodhi pergi ke Battambang. Sebelum itu, mereka mapir ke tempat Michael. Ketika Kell ingin buang air kecil, tidak sengaja dia menginjak rajau. Bukan malah memikirkan keselamatannya, Kell meminta Bodhi untuk menattonya. Setelah Bodhi selesai mengerjakannya, Kell menghembuskan nafas terakhirnya.

4.1.2. Tema Novel Supernova Episode Akar

Tema yang terdapatdalam novelSupernova Episode Akaradalah petualangan pencarian kesejatian hidup yang hakiki. Bodhi, sebagai tokoh utama mencari kesejatian hidupnya yang hakiki dengan berpetualang menjadi backpacker. Kesejatian tersebut diharapkan dapat menjawab pertanyaan yang selama ini menjadi bahan perenungan dan kebimbangan Bodhi. Bodhi yang anak yatim piatu juga ingin mengetahui sebenarnya dari mana dia berasal, dari mana manakah akar dia berasal. Hal ini sesuai dengan judul novel ini, yaitu akar.

4.1.3. Plot atau Alur Cerita Novel Supernova Episode Akar

Novel karya Dewi Lestari ini, menggunakan alur campuran karena awalnya pengarang mengenalkan situasi dan tokoh cerita, lalu menceritakan kejadian masa lalu ketika Bodhi berniat untuk mencari kesejatian hidupnya. Kemuadian penulis memaparkan cerita-cerita yang menuju konflik hingga klilmaks dan anti klimaks. Penulis menggunakan alur maju mundur agar memudahkan pembaca mengetahui awal penyebab konflik terjadi. Sedangkan untuk klimaks, penulis menyuguhkan kisah ketika iman Bodhi diuji dengan erangan Star saat ditatto oleh dirinya. Hal ini merupakan hal yang paling sulit dilewatiselama perjalanannya mencari kesejatian hidup. Menggunakan alur maju dan mundur dapat dibuktikan dengan uraian sebagai berikut:

4.1.3.1. Tahap Penyituasian

Pada tahan ini penulis memperkenalkan situasi latar dan tokoh cerita. Berikut ini adalah tahap penyesuaian dalam novel Supernova Episode Akar: Bodhi seorang yang menganut aliran punk.Karena gayanya yang gundulisme, Bodhi dijadikan simbol aliran punk straight edge.Meskipun Bodhi penganut punk, dia tidak merokok, tidak minum alkohol, tidak pakai narkoba, tidak menganut free sex, dan vegetarian. Bodhi bekerja menjadi penyiar radio gelap di salah satu station radio di Jakarta. Selain menjadi penyiar radio, Bodhi juga sering menjadi orientator untuk anak-anak jalanan yang mulai kehilangan “arah”. Hal ini dapat dibuktikan dengan kutipan “Bodhi juga dijadikan sebagai simbol dari aliran punk straight edge, karena walaupun sebagai salah satu pengikut aliran punk, dia tidak pernah merokok, tidak minum alkohol, tidak memakai obat terlarang, tidak menganut seks bebas, dan vegetarian” (Lestari, 2012:35). Meskipun menganut punk-yang terkenal dengan hal negatif-Bodhi tetap hidup sehat dan mematuhi ajaran Budha.

Pengenalan profesi Bodhi sebagai seorang penyiar radiodapat dilihat dari kutiban sebagai berikut, “Pergi siaran, Bod?” Gun, salah satu fans fanatikku, menyapaku” (Lestari, 2012:19). Gun menyapa Bodhi di indokos mereka, ketika Bodhi bersiap-siap berangkat siaran. Seperti biasa, selain menyapa Gun juga memesan lagu untuk diputar Bodhi pada saat Bodhi bersiaran nanti.

4.1.3.2. Tahap Permunculan Masalah

Selama 18 tahun Bodhi hidup bersama dengan Guru Liong di Vihara. Meskipun yatim piatu, Bodhi ingin mengetahui asal-usulnya. Akhirnya, Bodhi memutuskan untuk mencari kesejatian hidupnya dengan menjadi backpacker. Berbekal paspor made in Ompung Berlin, Bodhi memulai perjalanannya dari Penang hingga ke Bangkok. Disana Bodhi tinggal di penginapan Srinthip. Masuklah Kell di penginapan Srinthip. Kell mengajari Bodhi bagaimana cara mentatto. Keinginan Bodhi untuk keluar dari wihara dapat dibuktikan dengan kutipan “Umur saya baru delapan belas tahun, tapi rasanya sudah hidup berabad-abad. Pada titik itulah saya memutuskan untuk keluar dari wihara. Menikmati saja neraka ini. Terbakar hangus, jangan nanggung... “ (Lestari, 2012:47). Selama 18 tahun Bodhi menghabiskan waktunya di wihara. Bodhi ingin merasakan kehidupan layaknya manusia normal. Dengan tekat yang kuat Bodhi meminta izin untuk meninggalkan wihara kepada Guru Liong.

Selain itu, penulis juga memberika kutipan, yaitu “Berbekal paspor made in Ompung Berlin yang berhasil lolos mulus” (Lestari, 2012:56),Kutipan ini menunjukan bahwa Bodhi mendapat paspor palsu dari Ompung Berlin. Dengan paspor ini Bodhi berhasil lolos dalam operasi petugas imigrasi di setiap negara. Paspor made in Ompung Berlin yang membantu Bodhi menemukan kesejatian hidupnya.

4.1.3.3.Peningkatan Konflik

            Isthar Shumer (Star) seorang backpacker cantik dari Hollywood. Selain cantik Star juga berperawakan seksi. Star masuk di penginapan Srinthip. Setiap malamnya selama sepuluh detik, Star selalu melakukan hal tak senonoh, yaitu berganti kaos di hadapan penghuni kamar. Semua laki-laki di kamar penginapan selalu membicarakan hal yang jorok tentang Star. Bodhi pernah dituduh mengintip Star saat berganti kaos sebelum tidur. Hal ini memicu adu mulut antara Star dan Bodhi yang dilanjutkan dengan “berdiam-diaman”antara Bodhi dan Star selama tiga hari. Hal ini dapat dibuktikan dengan beberapa kutipan "Yes, you did. I’m not blind! You were staring at me. Dan, itu adalah pelecehan, tauk” (Lestari, 2012:87), kutipan ini menjelaskan bahwa Star menuduh Bodhi mengintipnya di penginapan Srinthip. Kenyataanya, Bodhi hanya menoleh kepada Heldegaard, perempuan penghuni penginapan Srinthip. Yang sebenarnya mengintip Star setiap hari adalah Jan dan Clark. Konflik ini yang membuat Bodhi kesal kepada Star dan mulai bersikap hati-hati kepadanya.

Kutipan ini menunjukan hubungan Star dan Bodhi pasca Star menuduh Bodhi mengintipnya, “Setelah tiga hari tidak saling sapa sama sekali, tiba-tiba aku dan Clark melihat Star sedang window shopping di Khao San” (Lestari, 2012:87). Tiba-tiba saja Star  meminta Bodhi untuk menattonya. Tanpa persetujuan dari Bodhi, Clark langsung menyetujuinya. Bodhi mempunyai firasat buruk kepada Star. Tanpa rasa malu Star meminta Bodhi menattonya di daerah payudarah. Selama proses pengerjaan tatto berlangsung, Bodhi terus membentengi dirinya dengan mantra suci.

4.1.3.4. Tahap Klimaks

Star meminta Bodhi untuk ditatto di bagian payudaranya. Pada saat proses penattoan, Star selalu mengerang. Hal ini membuat Bodhi risih. Semakin lama eranganan itu semakin jelas terdengar oleh telinga Bodhi. Hal ini mengusik “Bodhi” yang lain. Bodhi terus membentengi dirinya dengan mantra-mantra suci yang diucapkannya di dalam hati. Tidak semakin mereda malah tingkah dan suara Star semakin dibuat-buat. Dengan susah payah Bodhi menyelesaikan tugasnya. Tak disangka tingkah Star semakin berani. Star memanggut bibir Bodhi. Akhirnya, pertahanan Bodhi runtuh. Bodhi ikut terbakar dalam neraka dunia yang diciptakannya sendiri. Hal ini dapat dibuktikan dengan beberapa kutipan “Saya ingin ditatto di... sini.” Star membawa rengkuhan tangannya untuk menopang payudara sebelah kanan, kemudian mendorongnya naik. “Kamu lihat, Bodhi? Ada tahi lalatnya” (Lestari, 2012:90), kutipan ini menjelaskan bahwa Star sedang menggoda iman Bodhi dengan memaju-majukan payudaranya. Meskipun Bodhi sudah menghindar bahkan memeringatkan Star untuk tidak melakukan hal itu, namun tetap saja Star melanjutkan perbuatannya.

Star semakin menunjukan keliarannya di depan bodhi. Hal ini dapat dibuktikan dengan kutipan “Aku mendengar desahan dan kuputuskan untuk tidak mengangkat mukaku sama sekali. Sesuatu pun mengeras. Bukan bagian tubuhku. Namun, putingnya” (Lestari, 2012:93). Selanjutnya, Bodhi mencukur bulu halus di sekitar puting Star. Selagi ditatto Star sibuk menggoda Bodhi dengan gerakan-gerakan panas. Bodhi memaki-maki dalam hati. Memaki kell yang telah mengajarinya menatto. Memaki Clark yang sudah membuat Star percaya bahwa tatto buatannya istimewa. Dan yang terakhir, memaki dirinya sendiri yang masih butuh uang,

“Dalam hati, cukup di dalam hati, aku membaca sebuah mantra, Om / Siu To Li / Siu To Li / Siu Mo Li / So Po Ho. Mantra untuk menyucikan raga” (Lestari, 2012:93), kutipan ini membuktikan Bodhi sedang membetengi dirinya dengan mantra-mantra suci agar kesuciannya sebagai seorang Budha tidak ternodai.Namun, godaan Star terhadap Bodhi semakin menadi-jadi.

4.1.3.5. Anti Klimaks

Bodhi memutuskan untuk melanjutkan perjalanannya mencari kesejatian hidup dan berpisah dengan Kell. Di perjalanan, Bodhi terus mendapat rintangan. Namun, dengan mudah dia melewatinya. Di daratan ranjau, Bodhi bertemu dengan Epona. Di sana pula, dia bertemu dengan Kell. Namun pertemuan itu tidak berlangsung lama. Kell meninggal ketika dia tidak sengaja menginjak ranjau. Setelah semua peristiwa itu, Bodhi memutuskan untuk kembali ke Indonesia. Hal ini dapat dibuktikan dengan beberapa kutipan yang menunjukkan adanya interaksi antara Bodhi dan Epona. Hal ini menjelaskan adanya keberadaan tokoh Epona dibagian anti klimaks novel Supernova Episode Akar. “Epona menoleh dan berkata, “You may walk normally now.” Suara itu lembut diluar dugaan (Lestari, 2012:199). Epona memperbolehkan Bodhi untuk berjalan normal setelah dia memastikan tidak ada ranjau di dalam hamparan tanah kosong yang luas. Setelah itu, salah satu teman Epona datang dengan mobil Jip putih.

Kutipan lain yang menunjukkan bahwa tokoh Kell meninggal di akhir cerita tahap anti klimaks, “Kemerduan yang belum saatnya kuleburi, tetapi ia sudah. Sekarang, ia sudah (Lestari, 2012:238).Kell, sahabat Bodhi, tidak sengaja menginjak ranjau yang akhirnya merenggut nyawanya. Sebelum meninggal Kell ingin ditatto oleh Bodhi. Sementara itu, Epona masih memperbaiki alat pendetektor supaya Kell dapat diselamatkan. Namun, sebelum alat itu selesai Kell sudah menghembuskan nafas terakhirnya.

 

4.1.4. Setting (Latar) Novel Supernova Akar

4.1.4.1. Latar tempat

Novel Supernova Episode Akar yang ditulis oleh Dewi Lestari ini, menyuguhkan latar-baik latar tempat, latar waktu, dan latar suasana yang berbeda dari novel-novel lainnya. Penulis mampu menghipnotis pembaca lewat tulisannya. Salah satunya melalu latar waktu dalam novel ini. Tidak hanya bersetting Indonesia, novel ini juga menyuguhkan Negara Malaysia, Thailand, Bangkok, Laos, dan Golden Triangle sebagai latar tempatnya. Penulis juga mengikutsertakan bahasa, sejarah, dan budaya dari masing-masing negara. Hal itu dapat dilihat ketika Bodhi hampir mati tertembak oleh kaum komunis Khmer Merah yang berusaha merebut Pailin pada tahun 1994. Selain itu, penulis juga menguasai bahasa asing. Misalkan, “Khan hroo mai khao yoo thi nai krup?” yang berarti kamu tahu dia diamana?, “Please, tell her, I’m so sorry” yang berarti tolong bilang ke dia, aku sangat menyesal.

4.1.4.1.1. Bandung

Tujuan utamanya pergi ke Kota Bandung untuk mengunjungi Vihara Vipassana Graha di Desa Sukajaya. Sebelum pergi ke tujuan utamanya, Bodhi ingin berkeliling Kota Bandung.Hal ini dapat dibuktikan dengan kutipan “Aku baru tiba di stasiun Bandung dengan tujuan awal vihara Vipassana Graha di Desa Sukajaya, Lembang, yang kata orang jauh sekali sampai mendekati Cimahi” (Lestari, 2012:29). Bodhi mengingat masa lalunya ketika dia baru sampai di Kota Bandung. Bodhi terus berjalan menyusuri Kota Bandung hingga dia sampai di gedung olahraga yang penuh dan sesak dengan anak punk. Bodhi mulai bergabung dengan anak punk itu. Di sini Bodhi menemukan “rumah” yang dia cari.

Bukti lainnya adalah “Pada suatu sore cerah di Kota Bandung, tiga tahun silam, sehabis menonton pertunjukan musik dilapangan yang kelak kutahu disebut “Saparua”, berdua kami duduk di jongko mi rebus di Jalan Sumatra” (Lestari, 2012:27). Bodhi dan Bong sedang duduk berdua. Bodhi menanyakan kepada Bong kenapa namanya Bong, bukan Bing, atau Bang, atau Bung. Bong menjawab dengan cara yang unik. Selanjutnya Bong bertanya kepada Bodhi kenapa namanya Bodhi, bukan Budi, Bude, atau Bodo. Bodhi tertawa mendengar pertanyaan itu. Bodhi mulai bercerita segalanya kepada Bong, yang akhirnya Bong menjadi sahabat Bodhi.

“Sering juga aku membantu teman-teman yang membuat fanzine di Bandung” (Lestari, 2012:31). Bodhi mengingat masa lalunya ketika hidupnya masih berpindah-pindah. Dulu, Bodhi pernah menjadi penyiar radio di Jakarta. Kadang dia membantu teman-temannya yang membuat fanzine di Bandung, lalu mendistribusikannya ke kota-kota yang akan disinggahinya.

Dari bukti-bukti yang penulis berikan, bisa ditentukan latar novel Supernova Episode Akar untuk bagian pengenalan tokoh adalah Bandung.

4.1.4.1.2. Jakarta

Setelah Bandung, penulis menyuguhkan Ibu Kota sebagai latar. Disini penulis hanya berfokus pada tokoh utama sebagai penyiar radio gelap, penganut punk, dan orientator bagi anak-anak jalanan yang bermasalah. Namun, sesekali penulis memberikan kalimat yang dapat mengindikasikan pembaca bahwa latar yang diuraikan penulis adalah Jakarta. Contohnya “Kebanyakan aku di Jakarta bersama Bong, mengurus radio yang kadang mengudara-kadang tidak” (Lestari, 2012:30-31). Bodhi sedang mengingat masa lalunya ketika dia dan Bong, sahabatnya, menjadi penyiar radio yang kadang mengudara, kadang juga tidak.

Contoh lainnya “Langit Jakarta menyelimuti kita dengan racun, kata orang-orang” (Lestari, 2012:52). Sambil berceita tentang masa lalunya di hadapan empat anak, Bodhi melihat langit luar Jakarta yang hitam dan kelam. Bodhi berfikir tentang langit Jakarta yang selalu hitam. Tiba-tiba Bodhi rindu dengan orang dimasa lalunya. Rindu dengan langit yang jernih. Rindu dengan masa lalunya.

Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa salah satu latar tempat di novel Supernova Episode Akar adalah Jakara.

4.1.4.1.3. Kota Medan dan Kota Surabaya

Penulis telah menyuguhkan Kota Bandung dan Kota Jakarta, selanjutnya penulis menyuguhkan Kota Medan dan Kota Surabaya. Di sini penulis hanya sekedar menceritakan Kota Medan sebagai kota peralihan sebelum tokoh utama memualai perjalan. Hal ini dapat dibuktikan dengan kutipan “Menyusupkan saya ke rombongan pandita yang akan pergi ke Medan, membelikan tiket...” (Lestari, 2012:40). Guru Liong menyusupkan saya ke rombongan pendeta yang akan menuju Medan. Di Medan, Bodhi bekerja sebagai pelayan di salah satu hotel.

Sedangkan untuk Kota Surabaya ini adalah tempat dimana tokoh utama hidup. Dari pertama kali tokoh utama ditemukan didepan vihara. Sampai tokoh utama berniat untuk meninggalkan vihara demi mencari kesejatian hidupnya. Hal ini dapat dibuktikan dengan kutipan “Saya belajar hampir segalanya di Vihara Pit Yong Kiong, daerah Lawang, 60-an km dari Surabaya ke selatan” (Lestari, 2012:38). Di Vihara Pit Yong Kiong Bodhi menghabiskan delapan belas tahun untuk merawat vihara dan belajar banyak ilmu dengan Guru Liong. Bodhi sudah menganganggap Guru Liong sebagai orang tuanya, sahabatnya, temannya, dan segalanya, karena memang Bodhi hanya memiliki Guru Liong di dunia ini.

4.1.4.1.4. Malaysia

Negara Malaysia adalah negara dimana tokoh utama mendapatkan bekal berupa paspor palsu made in Ompung Berlin. Karena paspor inilah tokoh utama dapat memulai perjalanan demi mencari kesejatian hidupnya. Hal ini dapat dibuktikan dengan kutipan novel “Tidak pernah kukira, tiga hari setelah pertemuan pertamaku dengan kakek sakti yang seram-seram imut itu, aku bisa naik kapal laut ke Penang” (Lestari, 2012:56). Pak Sembiring membawa Bodhi ke tempat Ompung Berlin. Ompung Berlin adalah pembuat paspor palsu. Bodhi meminta kepada Ompung Berlin untuk dibuatkan paspor palsu. Paspor buatan Ompung Berlin dapat lolos dari petugas imigrasi. Hal ini yang membuat Bodhi bisa pergi ke negara lain.

4.1.4.1.5. Bangkok

Bangkok adalah kota pertama diperjalanan hidup si tokoh utama. Di sini tokoh utama menjadi backpacker yang mempertemukannya dengan backpacker lain. Di Bangkok inilah si tokoh utama mengalami masalah klimaks yang hampir melunturkan kesuciannya sebagai umat Sang Budha. Di Bangkok pula si tokoh utama bertemu dengan seorang backpacker yang mengajarinya seni tatto. Dalam bagian ini penulis benar-benar memperlihatkan keahliannya dalam mengelolah kalimat-kalimat sehingga menjadi cerita yang eksplisit. Banyak pula bahasa, istilah asing, dan keadaan sosial Negara Bangkok yang dituangkan dalam novel ini. Seperti “Khan hroo mai khao yoo thi nai krup?” yang berarti kamu tahu dia diamana?. Hal ini dapat dibuktikan dengan beberapa kutipan yang ada di novel ini, “Hiruk-pikuk Hua Lamphong di kupingku mereda. Aku pun lanjut bercerita. Bangkok merupakan babak baru. Kelahiran baru” (Lestari, 2012:59).Bodhi baru sampai di Kota Bangkok. Dia mencoba bertahan di Kota Bangkok dengan bekal sedikit bahasa mandarin, bahasa inggris, dan buku panduan backpacker dari Tristan. Di Bangkok, Bodhi mulai belajar bahasa Thai. Bodhi juga mencoba mencari pekerjaan untuk menghidupi dirinya sehari-hari. Di Bangkok, Bodhi tinggal di penginapan srinthip.

“Pergi ke Yaowaraj, pecinannya Bangkok, dan berhasil jadi tukang cuci piring selama satu bulan...” (Lestari, 2012:60). Selama satu bulan di Kota Bangkok, Bodhi sudah berprofesi sebagai tukang cuci di sebuah restoran China, meskipun akhirnya Bodhi harus dipecat karena tidak memiliki surat izin kerja. Dari hasil gajinya bekerja selama sebulan, Bodhi sudah bisa membeli sleeping bag bekas dan tinggal di kamar mungil di penginapan srinthip bersama lima orang.

“Merayakan kembalinya ia ke Thailand setelah dua tahun keliling dunia. Bangkok adalah titik nolnya” (Lestari, 2012:61). Setelah Kota Bangkok, Bodhi melanjutkan kembali perjalannya. Setelah lama dia meninggalkan Thailand, Bodhi kembali lagi ke Bangkok sebagai tujuan utamanya untuk mencari Kell sahabatnya.

“Karena nggak punya siapa-siapa, Cuma di Bangkok saya bisa merdeka begini,” lanjut Kell lagi (Lestari, 2012:62). Kell menceritakan latar belakangnya. Kell yang saat itu menjadi orang tertampan di penginapan srinthip langsung mencuri perhatian Robin dan Yvonne, dua perempuan di kamar penginapan srinthip. Kell mengabdikan hidupnya hanya untuk tatto. Kell menceritakan mengapa dia bisa sampai ke penginapan srinthip. Alasan utamnya hanya untuk mentatto Bodhi.

“Jadi, bisa dibilang kamu datang jauh-jauh ke Bangkok hanya untuk menatto Bodhi? Maksud simbol-simbol itu apa? Yvonne tidak tahan lagi (Lestari, 2012:67). Kell terus bercerita tentang masa lalunya. Tentang tentang kisahnya yang pernah diculik oleh alien. Semua penghuni kamar tidak percaya tentang kisah Kell. Mereka terus menhujami Kell dengan pertanyaan. Kell mengakhiri ceritanya dan memfokuskan dirinya kembali kepada Bodhi. Kell mencoba menerangkan makna dari simbol tatto yang ada di tubuhnya kepada Bodhi.

“Bagaimana kamu bisa tahu saya ada di sini, di Bangkok, di Banglamphoo, di Srinthip?” (Lestari, 2012:69). Bodhi masih bingung kenapa Kell bisa sampai di penginapan srinthip ini. Kell menerangkan bahwa semua ini sudah takdir. Kell dan Bodhi harus betemu. Kell menjelaskan ketika Bodhi berangkatat meninggalkan Indonesia, dia langsung berangkat menuju Bangkok. Meskipun Bodhi masih ragu, tapi Kell terlihat serius.

4.1.4.1.6. Laos

Setelah penulis menceritakan masalah tokoh dengan latar Bangkok, penulis kembali menghadirkan Laos sebagai latar tempat di novel Supernova Episode Akar. Tokoh utama melawati berbagai rintangan dan koflik fisik dengan masyarakat Laos. Bahkan tokoh utama hampir saja dibunuh oleh pasukan komunis Khmer Merah. Hal ini dapat dibuktikan dengan kutipan ”Perjalanan ke Laos memang bagai mimpi, yang justru membuatku tersadar, sudah terlalu lama aku di Bangkok” (Lestari, 2012:113). Bodhi teringat pesan Guru Liong untuk jangan pernah berhenti. Terus berjalan mencari kesejatian hidup. Bodhi memutuskan untuk melanjutkan perjalanannya. Bodhi langsung menuju terminal.

“Lanjut dengan bus meniti Saphan Mittaphap Thai-Laos atau Thai-Laos Friendship Bridge, yang terbentang di atas Sungai Mekong” (Lestari, 2012:113). Sampai di Nong Khai pagi-pagi, Bodhi langsung pergi menuju sungai Mekong. Tiba di bagian imigrasi, kesaktian paspor Ompung Berlin masih mengiringi. Paspor buatan Ompung Berlin lulus pemeriksaan.

“Tiba di bagian imigrasi Laos. Kesaktian Ompung Berlin masih mengiringi. Paspor keluaran Belawan itu tetap lolos mulus” (Lestari, 2012:113).Paspor buatan Ompung Berlin masih terus membantu Bodhi untuk mencari kesejatian hidupnya. Selanjutnya, Bodhi pergi ke Vientiane dengan bus. Di sana Bodhi bertukar kitab dengan seorang backpacker. Setelah itu, Bodhi menukarkan uang di money changer.

“Sekalipun tak dianjurkan oleh sesama backpacker, kuhabiskan satu malam di Vientiane yang terasa seperti kuil hening dibandingkan Bangkok” (Lestari, 2012:114). Vientiane adalah kota paling mahal di Laos. Namun, Bodhi sudah todak tahan lagi jika dia harus melanjutkan perjalanan. Bodhi memutuskan untuk menginap di penginapan termurah di Vientiane. Penginapan itu cukup nyaman untuk sekedar beristirahat.

4.1.4.1.7. Golden Triangle

Penulis kembali memberika latar tempat yang menakjubkan. Golden Triangle terdapat hamparan kebun ganja yang sangat luas. Setiap harinya banyak orang-orang yang memetik daun ganja. Tidak hanya orang asia saja, bahkan orang barat pun ikut berkumpul di Golden Triangle. Di sini tokoh utama bertemu dengan teman lamanya sesama backpacker. Hal ini dapat dibuktikan dengan kutipan “Dan, sekarang kamu ada di Golden Triangle, so forget the rest of the globe” (Lestari, 2012:146). Bodhi bertemu Tristan di Golden Triangle. Tristan menjelaskan tentang keindahan Golden Triangle. Tristan juga bercerita tentang ladang ganja yang selain dihuni oleh orang Bangsa Asia Tenggara, juga dihuni oleh Bangsa Eropa dan Amerika. Mereka di sana bekerja di ladang ganja. Upahnya sangat besar, sekitar 700 USD perminggu. Tristan mengajak Bodhi untuk bekerja di ladang ganja. Bodhi pun langsung menyetujuinya.

“Dan, “Perserikatan Bangsa-Bangsa” di sini sepakat bahwa Golden Triangle merupakan dimensi lain tempat segalanya bergerak lamban” (Lestari, 2012:149). Di Golden Triangle banyak sekali orang-orang bangsa kulit putih yang bekerja di sana. Setiap hari mereka melakukan hal yang sama. Di sana, waktu serasa berjalan lambat.

4.1.4.2. Latar Waktu

Selain latar tempat, penulis juga menyugguhkan latar waktu di novel Supernova Episode Akar. Dalam novel penulis tidak secara eksplisit menceritakan latar waktunya. Hal ini dapat dibuktikan penulis dengan kutipan sebagai berikut:

4.1.4.2.1. Pagi

 “Permisi, Mas Bodhi. Selamat pagi [suaranya selip lagi]---Ehm!” (Lestari, 2012:19).Saat sedang mandi di indekosnya, Bodhi ditagih uang sewa yang menunggak selama 6 bulan. Meskipun begitu Bodhi tidak kunjung membayar. Setiap bulannya dia selalu lolos dari tagihan. Entah bagaimana caranya. Dari awal Bodhi tinggal di indekosnya, belum satu bulan pun dia membayar uang sewanya.

“Setiap kali ku songsong terbitnya matahari, sesuatu dalam tubuhku seperti terkelupas” (Lestari, 2012:51).Bodhi merasakan ada yang hilang setiap harinya. Guru Liong sedah menyarankannya untuk pergi meninggalkan vihara. Setidaknya Bodhi pernah menjadi manusia normal. Bodhi sudah sangat jenuh dengan kehidupannya yang monoton di vihara.

“Setelah aku pulang dari kamar mandi pagi-pagi, Kell sudah menunggu dengan sekantong pàw-pia panas di kamar” (Lestari, 2012:73). Semenjak kedatangan Kell, Bodhi ingin segera pergi dari penginapan srinthip. Namun, Kell membujuk Bodhi untuk tetap tinggal bersamanya di penginapan srinthip. Bodhi pun setuju. Kell langsung memulai untuk mengajari Bodhi bagaimana cara mentatto.

“Feri sungai itu berangkat pukul sembilan pagi” (Lestari, 2012:122).Setelah dua malam di Luang Prabang, Bodhi berangkat menuju Huay Xai. Bodhi berangkat naik slow boat. Bodhi menyusuri Sungai Mekong sepanjang 300 kilometer selama dua hari dan menginap di dekat Pakbeng. Jam sembilan pagi kapal feri yang dinaiki Bodhi berangkat. Kapal feri itu berjalan lambat menyusuri sungai.

“Pagi secara alami membangunkan siapa saja yang tidur di ruang terbuka” (Lestari, 2012:179). Setelah semalam mengalami kejadian mengerikan, Bodhi terbangun oleh suara tiga orang. Mereka adalah tuan rumah Bodhi. Mereka terdiri dari laki-laki tua, istri laki-laki tua, dan seorang anak dari tuan rumah Bodhi. Tiba-tiba laki-laki tua bilang kepada Bodhi bahwa dia akan mengantar Bodhi ke Pailin. Laki-laki tua itu melarang Bodhi untuk pergi sendiri karena itu berbahaya.

“Subuh esok harinya kami berangkat” (Lestari, 2012:180). Setelah menunggu kedatangan laki-laki tua selama lima hari, akhirnya Bodhi diantar pergi ke Pailin. Diperjalanan, Bodhi ditegur oleh laki-laki tua karena terlalu lambat jalannya. Setengah jam kemudian mereka sampai di Pailin.

“Silau matahari redam seketika oleh gelap ruangan” (Lestari, 2012:184).Bodhi berniat menolong laki-laki tua itu. Namun, hal itu membawa Bodhi bertanding dengan laki-laki yang berbadan besar. Diawal pertandingan Bodhi serasa ingin mati saja. Laki-laki berbadan besar itu terus memukul dan meninju Bodhi. Hampir saja Bodhi mati, namun, pukulan laki-laki berbadan besar kembali menyadarkan Bodhi. Bodhi sangat marah karena kesempatannya untuk mati sudah hilang. Bodhi bangkit lagi untuk membalaskan dendamnya. Bodhi menggunakan jurus wushu yang diajarkan oleh Guru Liong. Dan akhirnya pertandingan dimenangkan oleh Bodhi.

“Jarang-jarang. Senyap. Cuma kokok ayam sesekali menyambar lantang, kadang dekat mengaggetkan, kadang jauh memanggil” (Lestari, 2012:178). Bodhi sampai di mulut kampung. Waktu ini masih sangat pagi. Langit masih gelap. Bodhi dikagetkan dengan bapak tua dan anjing kampung. Bapak tua itu menyilahkan Bodhi untuk tidur dalam kantong tidurku di beranda rumahnya.

4.1.4.2.2. Bulan Keenam

“Bulan keenam, dan selalu lolos. Tinggal gratis dari pertama masuk” (Lestari, 2012:19).Bodhi ditagih uang sewa indekosnya. Namun, sampai bulan keenam, Bodhi belum juga membayar uang sewa.

4.1.4.2.3.Malam hari

“Baru tengah malam aku kembali ke Srinthip. Semua kantong tidur sudah terisi. Kecuali punya Kell” (Lestari, 2012:72). Bodhi baru kembali di penginapan srinthip saat tengah malam. Bodhi melihat sekelilingnya, semua kantong sudah diisi oleh pemiliknya. Namun, Bodhi tidak melihat Kell dalam kantong tidurnya. Bodhi bingung kenapa sudah larut malam Kell tidak ada di penginapa srinthip. Bodhi melihat sekeliling kamarnya. Tiba-tiba Kell muncul dan berkata bahwa Bodhi harus berhenti mencari jika Bodhi ingin menemukkannya.

“Malam datang tak lama lagi. Angkasa tengah mengenakan jubah hitam yang luruh perlahan” (Lestari, 2012:117). Malam menjelang, Bodhi masih duduk di pinggiran sungai. Tiba-tiba Bodhi melihat biksu remaja sedang berjalan di atas air. Perlahan Bodhi mengamati biksu muda itu. Bodhi merasa mengenal biksu muda itu. Muka biksu itu mirip dengan Guru Liong. Bodhi yakin bahwa biksu itu adalah Guru Liong remaja. Namun, semakin lama Guru Liong menghilang digantikan genang sungai yang airnya ikut menghitam karena langit.

Good night, Bodhi. Maaf menggangu,” Sophin tersenyum manis lalu menutup pintu (Lestari, 2012:126-127).Selama di kapal feri Bodhi diikuti oleh anak kecil perempuan. Anak itu selalu mengikuti Bodhi kemana pun. Namun, anak ini tidak mau bicara sama sekali. Ibu anak ini bingung mencari anaknya. Setelah menemukan anaknya menangis dikamar Bodhi, si ibu langsung meminta maaf kepada Bodhi dan berkata bahsa

Komentar :

Nama :
E-mail :
Web :
Komentar :
Masukkan kode pada gambar

    [Emoticon]
 

Pengumuman PPMB

 

Artikel Popular

  • TUGAS SISWA KELAS XI
    TUGASSISWAXI - 13-01-2013 11:26:25  (132)
  • FAKTA & OPINI
    Tugassiswa - 18-07-2011 12:17:35  (119)
  • MENULIS SURAT LAMARAN PEKERJAAN
    TUGAS SISWA KELAS XII - 25-01-2013 17:08:37  (96)
  • KARYA TULIS ILMIAH
    ARTIKEL - 31-01-2012 10:02:57  (63)
  • TUGAS SISWA XII.2
    Tugassiswa - 20-09-2011 11:11:12  (59)
 
 
 

Musik

 
Home | Profil | Pengumuman

Copyright © 2011 Unair | Designed by Free CSS Templates