Dra. I. Mufidah, M.Pd
Tetap semangat dalam berkarya
 
 

Link Lain

 
 

Pengunjung

341865
 

Komentar TUGAS SISWA KELAS XI

BAB II
KAJIAN PUSTAKA

Sastra atau kesustraan adalah pengungkapan dari fakta artistik dan imajinatif, fiktif dan inventif sebagai manifestasi kehidupan manusia (Mursal Esten, 1978 : 9). Sastra itu adalah ungkapan pribadi manusia berupa pengalaman, pemikiran, perasaan, gagasan, semangat, keyakinan, dalam suatu bentuk gambaran kongkret yang membangkitkan pesona dengan alat-alat bahasa (Sumarno dan Saini, 1991 : 3) dan garis simbol-simbol lain sebagai alat (Ahmad Badrun, 1983 : 16). Bahasa sebagai medium dan memiliki efek yang positif terhadap kehidupan manusia (Sapardi, 1979: 1). Bahasa itu sendiri merupakan ciptaan sosial, Sastra menampilkan gambaran kehidupan, dan kehidupan itu sendiri adalah suatu kenyataan sosial. Bahasa yang digunakan adalah bahasa yang indah dan berguna yang menandakan hal-hal lain seperti dipadatkan, didalamkan, dibelitkan, dipanjangtipiskan dan diterbalikkan, dijadikan ganjil (Engleton, 1988 : 4).
Sastra sebagai karya lisan atau tulisan yang memiliki berbagai ciri keunggulan seperti keorisinalan, keartistikan, keindahan dalam isi, dan ungkapannya (Panuti Sudjiman, 1986 : 68), dengan kata lain sastra membantu mengungkapkan apa yang telah dirasa seseorang dan memiliki makna yang indah. Selain itu, sastra juga mempunyai berbagai manfaat sesuai kebutuhan pembacanya. Salah satu manfaat sastra antara lain estetis, pendidikan, kepribadian batin atau sosial, menambah wawasan, pengembangan kejiwaan atau kepribadian, dan lain-lain. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa karya sastra mengandung nilai-nilai kebenaran dan kebaikan, juga sangat bermanfaat bagi manusia dan pembacanya. Karya sastra yang baik adalah karya sastra yang mampu meniggalkan kesan yang mendalam bagi pembacanya serta mempunyai unsur hakikat, fungsi dan estetika. Untuk mendapatkan manfaat dari sebuah sastra, maka pembaca perlu menganalisis karya sastra dari segi unsur intrinsik karya sastra.
2.1. Teori Unsur Instrinsik Sastra
Menurut Aristoteles, karya sastra dapat digolongkan dalam beberapa kriteria. Ada tiga kriteria dipandang dari segi perwujudannya, diantara ketiga kriteria tersebut adalah teks naratik (epik) yaitu novel, roman dan cerpen.
Dalam sebuah novel yang merupakan salah satu bentuk karya sastra, terdapat unsur intrinstik dan ektrinstik yang selalu melingkupi jalan ceritanya. Unsur instrinsik adalah unsur-unsur pembangunan struktur yang ada didalam karya sastra dan secara faktual akan dijumpai jika orang membaca karya sastra (Nurgiantoro, 1995:23). Dalam unsur intrinsik terdapat beberapa unsur penting yang mampu membuat novel menjadi satu keutuhan. Unsur intrinsik novel menjadikan bagian dalam novel sebagai ruh dari cerita yang disajikan oleh penulis. Unsur-unsur intrinsik novel ada 8 yakni: (1) Tema, (2) Penokohan, (3) Perwatakan, (4) Setting (Latar), (5) Alur, (6) Amanat, (7) Sudut Pandang (Saliman, 1996:23).

2.1.1. Tema
Dalam karya sastra, tema merupakan suatu gagasan pokok atau ide pikiran tentang suatu hal, salah satunya dalam membuat suatu tulisan. Di setiap tulisan pastilah mempunyai sebuah tema, karena dalam sebuah penulisan dianjurkan harus memikirkan tema apa yang akan dibuat. Dalam menulis cerpen, puisi, novel, dan berbagai macam jenis tulisan haruslah memiliki sebuah tema. Tema juga hal yang paling utama dilihat oleh para pembaca sebuah tulisan. Jika temanya menarik, maka akan memberikan nilai lebih pada tulisan tersebut. Tema merupakan gambaran umum cerital. Tema biasanya bersumber dari konflik kehidupan manusia seharí-hari, antara lain kisah cinta, kepahlawanan, peperangan, dan persahabatan.
Tema dibagi menjadi dua yaitu tema mayor dan tema minor. Tema mayor adalah makna pokok cerita yang menjadi dasar atau dasar gagasan umum karya sastra. Dan tema minor adalah makna yang terdapat pada bagian-bagian tertentu cerita dapat didefinisikan sebagai makna bagian, makna tambahan (Saad, 1967:185).
Selain itu, ada pendapat lain yang mengungkapkan tema sebagai berikut, tema adalah pokok pikiran, dasar cerita (dipercakapkan) yang dipakai sebagai dasar mengarang dan mengubah sajak (Moeliena, 1990:921). Tema juga merupakan gagasan sentral yang mencakup permasalahan dalam cerita, yaitu suatu yang akan diungkapkan untuk memberikan arah dan tujuan cerita karya sastra (Holmon, 1981:443).
Berdasarkan pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa Tema adalah Ide sentral atau pokok yang berperan penting dalam karya sastra juga pokok pembicaraan dalam sebuah cerita yang paling sering menimbulkan konflik.

2.1.2. Penokohan dan Perwatakan
Penokohan adalah panduan antara tokoh lengkap dengan perwatakan yang melekat pada diri tokoh. Penokohan merupakan pelukisan tokoh cerita, baik keadaan lahir maupun batinnya termasuk keyakinannya, pandangan hidupnya, adat-istiadat, dan sebagainya. Yang diangkat pengarang dalam karyanya adalah manusia dan kehidupannya. Oleh karena itu, penokohan merupakan unsur cerita yang sangat penting. Melalui penokohan, cerita menjadi lebih nyata dalam angan pembaca. Tokoh adalah salah satu unsur yang penting dalam suatu novel atau cerita rekaan. Tokoh merupakan individu rekaan yang mengalami peristiwa atau berlakuan di dalam berbagai peristiwa cerita (Sudjiman, 1988:16). Tokoh pada umumnya berwujud manusia, tetapi dapat juga berwujud binatang atau benda yang diinsankan. Tokoh juga merupakan bagian atau unsur dari suatu kebutuhan artistik yaitu karya sastra yang harus selalu menunjang kebutuhan artistik (Panuti Sudjiman, 1966:25).
Tokoh novel muncul dari kalimat-kalimat yang mendeskripsikannya, dan dari kata-kata yang diletekannya di bibirnya oleh si pengarang (Wellek dan Werren, 1993:19). Novelis-novelis lama seperti Scott memperkenalkan setiap tokohnya dalam satu alinea yang menguraikan secara rinci penampilan fisik mereka, dan satu alinea lagi untuk menganalisis sifat moral dan psikologi mereka (Wellek dan Werren, 1993:288).
Menurut pendapat lain, tokoh adalah pelaku yang mengemban peristiwa dalam cerita fiksi sehingga peristiwa itu mampu menjalin suatu cerita (Aminudin, 2002:79). Istilah tokoh mengacu pada orangnya, pelaku cerita (Nurgiyantoro, 1995: 165). Berdasarkan fungsi tokoh dalam cerita dapat dibedakan tokoh sentral dan tokoh bawahan (Sudjiman, 1988:17-18). Tokoh yang memegang peran pemimpin disebut tokoh utama atau protagonis. Tokoh utama ialah tokoh yang aktif pada setiap peristiwa (Stanton, 1965:17). Protagonis selalu menjadi tokoh yang sentral dalam cerita, ia bahkan menjadi pusat sorotan dalam kisahan.
Berdasarkan peranan dan tingkat pentingnya, tokoh terdiri atas tokoh utama dan tokoh tambahan. Tokoh utama adalah tokoh yang diutamakan penceritaanya dalan novel yang bersangkutan. Ia merupakan tokoh yang paling banyak diceritakan baik sebagai pelaku kejadian maupun yang dikenai kejadian. Tokoh tambahan kejadiannya lebih sedikit dibandingkan tokoh utama (Nurgiyantoro (1995:176). Kejadiannya hanya ada jika berkaitan dengan tokoh utama secara langsung. Tokoh utama dapat saja hadir dalam setiap kejadian dan dapat ditemui dalam tiap halaman buku cerita yang bersangkutan, tetapi tokoh utama juga bisa tidak muncul dalam setiap kejadian atau tidak langsung ditunjuk dalam setiap bab, namun ternyata dalam kejadian atau bab tersebut tetap erat kaitannya, atau dapat dikaitkan dengan tokoh utama. Tokoh utama dalam sebuah novel, mungkin saja lebih dari seorang, walau kadar keutamaannya tidak selalu sama. Keutamaan mereka ditentukan oleh dominasi, banyaknya penceritaan, dan pengaruhnya terhadap perkembangan plot secara keseluruhan. Penentuan tokoh utama dalam sebuah cerita dapat dilakukan dengan cara yaitu tokoh itu yang paling terlibat dengan makna atau tema, tokoh itu yang paling banyak berhubungan dengan tokoh lain, tokoh itu yang paling banyak memerlukan waktu penceritaan. Tokoh utama umumnya merupakan tokoh yang sering diberi komentar dan dibicarakan oleh pengarangnya. Selain itu lewat judul cerita juga dapat diketahui tokoh utamanya (Aminudin, 2002:80).
Berdasarkan pengertian di atas dapat dikatakan bahwa tokoh cerita adalah individu rekaan yang mempunyai watak dan perilaku tertentu sebagai pelaku yang mengalami peristiwa dalam cerita.

2.1.3. Perwatakan
Perwatakan adalah pelukisan mengenai tokoh cerita, baik keadaan lahirnya maupun batinnya yang dapat berubah, pandangan hidupnya, sikapnya, keyakinannya, adat istiadatnya, dan sebagainya. Watak adalah kualitas nalar dan jiwa tokoh yang membedakannya dengan tokoh lain (Sudjiman, 1988:22). Penyajian watak tokoh dan penciptaan citra tokoh ini yang disebut penokohan. Penokohan dan perwatakan sangat erat kaitannya. Penokohan berhubungan dengan cara pengarang menentukan dan memilih tokoh-tokohnya serta memberi nama tokoh tersebut, sedangkan perwatakan berhubungan dengan bagaimana watak tokoh-tokoh tersebut. Ada tiga cara yang digunakan pengarang untuk melukiskan watak tokoh cerita, yaitu dengan cara langsung, tidak langsung, dan kontekstual. Pada pelukisan secara langsung, pengarang langsung melukiskan keadaan dan sifat si tokoh, misalnya cerewet, nakal, jelek, baik, atau berkulit hitam. Sebaliknya, pada pelukisan watak secara tidak langsung, pengarang secara tersamar memberitahukan keadaan tokoh cerita. Watak tokoh dapat disimpulkan dari pikiran, cakapan, dan tingkah laku tokoh, bahkan dari penampilannya. Watak tokoh juga dapat disimpulkan melalui tokoh lain yang menceritakan secara tidak langsung.Pada pelukisan kontekstual, watak tokoh dapat disimpulkan dari bahasa yang digunakan pengarang untuk mengacu kepada tokoh.
Berdasarkan pendapat-pendapat di atas dapat dikatakan bahwa penokohan adalah penggambaran atau pelukisan mengenai tokoh cerita baik lahirnya maupun batinnya oleh seorang pengarang.
Ada dua penggambaran perwatakan yaitu sebagai berikut:
1. Secara eksplositori
Teknik eksplositori sering juga disebut sebagai teknik analitis, yaitu pelukisan tokoh cerita dilakukan dengan memberikan diskripsi, uraian, atau penjelasan secara langsung. Tokoh cerita hadir dan dihadirkan oleh pengarang ke hadapan pembaca secara tidak berbelit-belit, melainkan begitu saja dan langsung disertai deskripsi kediriannya yang mungkin berupa sikap, sifat watak, tingkah laku atau bahkan ciri fisiknya.
2. Secara dramatik
Penampilan tokoh cerita dalan teknik dramatik dilakukan secara tidak langsung. Artinya, pengarang tidak mendeskripsikan secara eksplisit sifat dan sikap serta tingkah laku tokoh. Pengarang membiarkan para tokoh cerita untuk menunjukkan kediriannya sendiri melalui berbagai aktivitas yang dilakukan, baik secara verbal lewat kata maupun nonverbal lewat tindakan atau tingkah laku dan juga melalui peristiwa yang terjadi (Nurgiyantoro, 1995:194-210).
Tokoh dalam novel disebut tokoh rekaan yang berfungsi sebagai pemegang peran watak tokoh. Itulah sebebanya istilah tokoh juga disebut karakter atau watak. Istilah penokohan juga sering disamakan dengan istilah perwatakan atau karakterisasi (tidak sama dengan karakteristik) (Saliman : 1996 : 32).
Berdasarkan pendapat di atas dapat dikatakan bahwa penokohan dapat diwujudkan dengan cara langsung dan cara tidak langsung. Secara langsung berarti pengarang secara langsung mengungkap watak tokoh dalam ceritanya. Sedangkan secara tidak langsung, pengarang hanya menampilkan pikiran-pikiran, ide-ide, pandangan hidup, perbuatan, keadaan fisik, dan ucapan-ucapannya dalam sebuah cerita.

2.1.4. Setting (Latar)
Latar adalah lingkungan, dan lingkungan-terutama interior rumah-dapat dianggap berfungsi sebagai metosemia, atau metomonia, ekspresi dari tokohnya. Latar juga berfungsi sebagai penentu pokok: lingkungan dianggap sebagai penyabab fisik dan sosial, suatu kekuatan yang tidak dapat dikontrol oleh individu (Wellek dan Werren, 1993:291). Latar adalah tempat terjadinya peristiwa yang diceritakan dalam sebuah novel. Latar tidak hanya merujuk kepada tempat, tetapi juga ruang, waktu, alat-alat, benda-benda, pakaian, sistem pekerjaan, dan sistem kehidupan yang berhubungan dengan tempat terjadinya peristiwa yang menjadi latar ceritanya. Penting untuk menciptakan suasana dalam karya sastra untuk menyusun pertentangan tematis (Hartoko dan Rahmanto, 1986:78).
Dalam arti luas latar atau setting meliputi latar tempat, waktu dan suasana kejadian atau peristiwa terjadi.
a. Latar tempat : Latar tempat mengacu pada lokasi terjadinya peristiwa yang diceritakan dalam sebuah karya fiksi. Unsur tempat yang dipergunakan mungkin berupa tempat-tempat dengan nama tertentu serta inisial tertentu.
b. Latar waktu : Latar waktu berhubungan dengan masalah â kapan â terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan dalam sebuah karya fiksi. Masalah âkapanâ teersebut biasanya dihubungkan dengan waktu.
c. Latar suasana : merupakan suasana sekeliling saat terjadinya peristiwa yang menjadi pengiring atau latar belakang kejadian penting.
Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa latar adalah tempat, waktu dan suasana yang melatar belakangi peristiwa suatu cerita.
2.1.5. Alur / Plot
Plot adalah sambung sinambungnya peristiwa berdasarkan hukum sebab akibat. Plot/alur tidak hanya mengemukakan apa yang terjadi, tetapi yang lebih penting adalah menjelaskan hal itu terjadi. Plot merupakan unsur instrinsik yang penting dalam pembuatan karya sastra. Plot atau alur adalah struktur rangkaian kejadian dalam cerita yang disusun sebagai urutan bagian-bagian dalam keseluruhan fiksi. Dengan demikian, plot merupakan perpaduan unsur-unsur yang membangun cerita sehingga menjadi kerangka utama cerita. Plot merupakan kerangka dasar yang amat penting. Plot mengatur bagaimana tindakan-tindakan harus berkaitan satu sama lain, bagaimana suatu peristiwa mempunyai hubungan dengan peristiwa lain, serta bagaimana tokoh digambarkan dan berperan dalam peristiwa itu.
Plot merupakan rangkaian cerita yang dibentuk oleh tahapan-tahapan peristiwa, sehingga menjalin suatu cerita yang dihadirkan oleh para pelaku dalam suatu cerita (Aminuddin, 1987:83). Plot sebagai alur cerita yang dibuat oleh pembaca yang berupa deretan peristiwa secara kronologis, saling berkaitan dan bersifat kausalitas sesuai dengan apa yang dialami pelaku cerita (Dick Hartoko, 1948:149). Menurut pendapat lain, mengemukakan bahwa alur adalah cerita yang berisi urutan kajian, namun tiap kajian itu hanya dihubungkan secara sebab-akibat (Staton, 1965 : 14),.
Alur atau plot sebuah karya sastra memiliki sifat misterius dan intelektual, dan alur menampilkan kejadian-kejadian yang mengandung konflik yang mampu menarik atau bahkan mencekam pembaca. Sifat misterius alur tersebut nampaknya tidak berbeda halnya atau kaitannya dengan pengertian suspense, rasa ingin tahu pembaca, foster juga mengakui bahwa unsur suspense merupakan suatu hak yang sangat penting dalam alur sebuah karya naratif (foster, 1970 : 94-5). Oleh karena itu alur bersifat misterius. Untuk memahaminya diperlukakan kemampuan intelektual, tanpa disertai dengan adanya daya intelektual, tak mungkin orang dapat memahami alur dengan baik, hubungan antara peristiwa, kasus atau berbagai persoalan yang diungkapkan dalam sebuah karya karena belum tentu ditujukan secara eksplisit dan langsung oleh pengarang.
Alur merupakan jaringan atau rangkaian yang membangun atau membentuk suatu cerita sejak awal hingga akhir. Tahap alur dibedakan menjadi lima bagian. Kelima tahap itu adalah sebagai berikut : (1) Perkenalan, (2) Awal masalah, (3) Menuju klimaks, (4) Klimaks, (5) Penyelesaian (Mochtar Lubis, 1978 : 10).
1. Tahap situation atau tahap penyituasian, tahap yang terutama berisi pelukisan dan pengenalan situasi latar dan tokoh-tokoh cerita.
2. Tahap genering circumstances atau tahap peningkatan konflik, masalah-masalah dan peristiwa-peristiwa menyulut mulai dimunculkan. Jadi tahap ini merupakan tahap awal munculnya konflik, dan konflik itu sendiri akan berkembang.
3. Tahap rising action atau tahap peningkatan konflik, konflik yang telah dimunculkan pada tahap sebelumnya semakin berkembang dan dikembangkan kadar intensitasnya.
4. Tahap climax, konflik dan pertentangan-pertentangan yang terjadi, yang dilakukan atau ditimpakan kepada para tokoh cerita mencapai titik intensitas puncak.
5. Tahap denouement atau tahap penyelesaian, konflik yang telah mencapai klimaks diberi penyelesaian, ketegangan dikendorkan.
Dari pengertian diatas maka dapat disimpulkan alur/plot adalah suatu cerita yang saling berkaitan secara kronologis untuk menunjukkan suatu maksud jalan cerita yang ada.

2.1.6. Amanat
.Amanat adalah segala sesuatu yang ingin disampaikan pengarang lewat karyanya (cerpen atau novel), yang ingin ditanamkannya secara tidak langsung ke dalam benak para pembacanya. Amanat bersifat kias, subjektif, dan umum. Dalam kebanyakan sastra lama amanat yang disampaikan biasanya tersurat, sedangkan dalam karya sastra modern, pesan yang disampaikan biasanya dikemukakan secara tersirat (Hartoko dan Rahmanto, 1986:10).
Amanat yang terdapat dalam karya sastra tertuang secara implisit. Secara implisit yaitu jika jalan keluar atau ajaran moral itu disiratkan dalam tingkah laku tokoh menjelang cerita berakhir (Sudjiman, 1986:35).
Amanat secara eksplisit yaitu jika pengarang pada tengah atau akhir cerita menyampaikan seruan, saran, peringatan, nasihat, anjuran, larangan dan sebagainya, berkenan dengan gagasan yang mendasari cerita itu.
Setiap orang dapat saja saling berbeda pendapat dalam menafsirkan amanat yang disampaikan pengarang novel.

2.1.7. Sudut Pandang
Cara pengarang menampilkan para pelaku dalam cerita yang dipaparkannya disebut sudut pandang, atau biasa diistilahkan dengan point of view (Aminuddin, 1987:90). Pendapat tersebut dipertegas oleh (Atar Semi, 1988:51) yang menyebutkan istilah sudut pandang, atau point of view dengan istilah pusat pengisahan, yakni posisi dan penobatan diri pengarang dalam ceritanya, atau darimana pengarang melihat peristiwa-peristiwa yang terdapat dalam cerita itu. Lebih lanjut (Atar Semi, 1988:57-58) menegaskan bahwa titik kisah merupakan posisi dan penempatan pengarang dalam ceritanya. Sudut pandang merupakan cara pengarang menempatkan dirinya terhadap cerita atau dari sudut mana pengarang memandang ceritanya. Berikut ini beberapa sudut pandang yang dapat digunakan pengarang dalam bercerita.
a. Sudut pandang orang pertama, sudut pandang ini biasanya menggunakan kata ganti aku atau saya. Dalam hal ini pengarang seakan-akan terlibat dalam cerita dan bertindak sebagai tokoh cerita.
b. Sudut pandang orang ketiga, sudut pandang ini biasanya menggunakan kata ganti orang ketiga seperti dia, ia atau nama orang yang dijadikan sebagai titik berat cerita.
c. Sudut pandang pengamat serba tahu, Dalam hal ini pengarang bertindak seolah-olah mengetahui segala peristiwa yang dialami tokoh dan tingkah laku tokoh.
d. Sudut pandang campuran, (sudut pandang orang pertama dan pengamat serba tahu). Pengarang mula-mula menggunakan sudut pandang orang pertama. Selanjutnya serba tahu dan bagian akhir kembali ke orang pertama.
2.1.8. Sinopsis
Sinopsis adalah ikhtisar karangan ilmiah yang biasanya diterbitkan bersama-sama dengan karangan asli yang menjadi dasar sinopsis itu, atau ringkasan atau abstraksi (KBBI, 1988: 845). Sinopsis juga dapat diartikan sebagai ringkasan cerita dari suatu tulisan tertentu baik fiksi maupun nonfiksi. Biasanya sinopsis tidak memaparkan keseluruhan isi karangan secara gamblang. Berbeda dengan resensi yang bertujuan untuk memberikan penilaian terhadap suatu karangan sebagai acuan pertimbangan para pembaca, sinopsis hanya bertujuan memperkenalkan atau memberikan gambaran umum mengenai isi cerita agar para pembaca tertarik untuk menikmati karangan tersebut.
Sinopsis merupakan ringkasan cerita, baik itu novel ataupun cerpen. Ringkasan cerita adalah bentuk pemendekan dari sebuah cerita dengan tetap memperhatikan unsur-unsur intrinsik cerita tersebut. Membuat sinopsis merupakan suatu cara yang efektif untuk menyajikan cerita yang panjang dalam bentuk yang singkat. Dalam sinopsis, keindahan gaya bahasa, ilustrasi, dan penjelasan-penjelasan dihilangkan, tetapi tetap mempertahankan isi dan gagasan umum pegarangnya. Sinopsis biasanya dibatasi oleh jumlah halaman, misalnya dua atau tiga halaman, seperlima atau sepersepuluh dari panjang karangan asli.
:: Reply ::

Paragraf 1 dan 2 hanya berisi kalimat kutiban! perhatikan pola penulisan paragraf yang benar



 

Pengumuman PPMB

 

Artikel Popular

  • TUGAS SISWA KELAS XI
    TUGASSISWAXI - 13-01-2013 11:26:25  (132)
  • FAKTA & OPINI
    Tugassiswa - 18-07-2011 12:17:35  (119)
  • MENULIS SURAT LAMARAN PEKERJAAN
    TUGAS SISWA KELAS XII - 25-01-2013 17:08:37  (96)
  • KARYA TULIS ILMIAH
    ARTIKEL - 31-01-2012 10:02:57  (63)
  • TUGAS SISWA XII.2
    Tugassiswa - 20-09-2011 11:11:12  (59)
 
 
 

Musik

 
Home | Profil | Pengumuman

Copyright © 2011 Unair | Designed by Free CSS Templates