Dra. I. Mufidah, M.Pd
Tetap semangat dalam berkarya
 
 

Link Lain

 
 

Pengunjung

342336
 

Komentar TUGAS SISWA KELAS XI

BAB II
KAJIAN PUSTAKA

Karya sastra merupakan hasil kerja seorang penulis mengungkapkan isi hatinya dalam bentuk tulisan. Karya sastra menggunakan bahasa sebagai alat untuk menyampaikan pesan, gagasan, dan pemikiran penulis. “Sastra adalah ungkapan pribadi manusia berupa pengalaman, pemikiran, perasaan, gagasan, semagat, keyakinan dalam suatu bentuk gambaran kongkrit yang membangkitkan pesona dengan alat – alat bahasa”. (Sumarno dan Saini, 1991:3).Bahasa yang digunakan cenderung indah dan mampu membuat emosi pembaca terpengaruh.
Keindahan dan kemampuan karya sastra dalam membuat pembaca terpengaruh menjadikan karya sastra dapat berfungsi sebagai penghibur. “Fungsi seni karya sastra sebagai hiburan mendapat nilai yang tak terkira peranannya dan menambah kenyamanan hidup”. (Sidi Gazalba, 1974 :550). Selain sebagai penghibur karya sastra juga berperan dalam menyampaikan kebenaran – kebenaran tentang kehidupan. Sehingga dengan membaca karya sastra seseorang akan memeroleh nilai – nilai yang akan membuat kehidupan menjadi lebih baik.
Karya sastra terdiri dari prosa, puisi, dan drama. Prosa adalah karya sastra dalam bentuk bahasa yang terurai tidak terikat oleh rima, ritma, jumlah baris dan sebagainya. Puisi adalah karya sastra dalam bentuk bahasa yang terikat oleh rima, ritma, jumlah baris dan sebagainya. Sedangkan drama adalah suatu karya sastra yang bertujuan menggambarkan kehidupan dengan menampilkan pertikaian / konflik dan emosi lewat adegan dan dialog.
Prosa sendiri terdiri dari beberapa jenis, diantaranya adalah hikayat, roman, novel, dan cerpen. Hikayat adalah cerita yang berasal dari India dan Arab, berisikan cerita kehidupan para dewi, peri, pangeran, putri kerajaan, serta raja-raja yang memiliki kekuatan gaib. Kesaktian dan kekuatan luar biasa yang dimiliki seseorang, yang diceritakan dalam hikayat kadang tidak masuk akal. Roman adalah bentuk prosa baru yang mengisahkan kehidupan pelaku utamanya dengan segala suka dukanya. Dalam roman, pelaku utamanya sering diceritakan mulai dari masa kanak-kanak sampai dewasa atau bahkan sampai meninggal dunia. Roman mengungkap adat atau aspek kehidupan suatu masyarakat secara mendetail dan menyeluruh, alur bercabang-cabang, banyak digresi (pelanturan). Roman terbentuk dari pengembangan atas seluruh segi kehidupan pelaku dalam cerita tersebut. Cerpen adalah bentuk prosa baru yang menceritakam sebagian kecil dari kehidupan pelakunya yang terpenting dan paling menarik. Di dalam cerpen boleh ada konflik atau pertikaian, akan telapi hat itu tidak menyebabkan perubahan nasib pelakunya. Sedangkan Novel adalah bentuk prosa baru yang melukiskan sebagian kehidupan pelaku utamanya yang terpenting, paling menarik, dan yang mengandung konflik. Konflik atau pergulatan jiwa tersebut mengakibatkan perubahan nasib pelaku. Jika roman condong pada idealisme, novel pada realisme. Biasanya novel lebih pendek daripada roman dan lebih panjang dari cerpen.
Pembahasan selanjutnya adalah mengenai novel. Setiap novel memiliki 2 unsur, yakni unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik. “Yang dimaksud unsur intrinsik merupakan segala elemen yang membangun karya sastra dari dalam sehingga terbentuk struktur karya sastra, sedangkan unsur ekstrinsik adalah segala unsur yang membangun karya sastra dari luar.” (Yudiono,2009:109). Unsur intrinsik sendiri meliputi:
2.1 TEMA
Tema merupakan dasar pijakan dalam sebuah karya sastra, karena tema merupakan ide pokok seorang pengarang dalam sebuah cerita. Tema mengandung inti dari suatu masalah yang ada dalam alur cerita pada suatu karya sastra. Tema merupakan konsep inti cerita ketika pengarang memulai karya sastranya. “Tema adalah gagasan dasar umum yang menopang sebuah karya sastra dan yang terkandung didalam teks sebagai struktur sistematik dan yang menyangkut persamaan-persamaan atau perbedaan-perbedaan”. (Hartoko dan Ruhmanto, 1986:68).
“Tema merupakan suatu gagasan atau ide sentral yang dapat terungkapkan dalam karya sastra baik langsung maupun tidak langsung, tersurat maupun tersirat, baik yang ada di dalam teks atau dalam konteksnya”. (Satoto, 1994:31). Jadi dapat disimpulkan bahwa tema adalah pokok permasalahan yang menjadi dasar gagasan penulis membuat karya sastra.
2.2 TOKOH
Tokoh merupakan pelaku yang mengalami, menjalani, dan dikenai peristiwa dalam karya sastra. “Tokoh adalah individu yang bermain dalam suatu cerita. Selain itu , tokoh juga dapat didefinisikan sebagai Individu rekaan yang mengalami peristiwa atau berlakuan di dalam berbagai peristiwa cerita”. (Sudjiman 1988: 16). Tokoh juga merupakan pembawa pesan dan ide yang ingin disampaikan pengarang baik secara langsung maupun tidak langsung.
Tokoh kemudian dibedakan menurut perananannya menjadi tokoh protagonis, antagonis, dan tokoh tritagonis.
2.2.1 Tokoh utama atau protagonis di dalam sebuah karya sastra dapat diketahui dengan cara mengikuti sejauh mana peran seorang tokoh didalam setiap peristiwa. “Tokoh utama adalah pemegang peranan penting atau terpenting dalam sebuah cerita”. ( Pradopo, 1976 : 30). Dengan demikian tokoh protagonis adalah tokoh yang paling penting dan menjadi sentral dalam sebuah cerita.
2.2.2 Tokoh yang berperan sebagai penentang atau lawan dari tokoh utama atau protagonis disebut antagonis. “Antagonis mewakili pihak yang jahat atau yang salah”. (Sudjiman, 1992:19). Antagonis selalu menentang apapun yang dilakukan protagonis. Antara antagonis dan protagonis tidak pernah memiliki pikiran yang searah.
2.2.3 Selain protagonis dan antagonis sebagai tokoh utama terdapat juga tokoh tritagonis. “Tokoh tritagonis adalah tokoh yang tidak sentral kedudukannya didalam cerita, tetapi kehadirannya sangat diperlukan untuk menunjang atau mendukung tokoh utama”. (Grimes, 1975:43). Jadi tokoh tritagonis merupakan tokoh tambahan agar cerita menjadi lebih menarik.
2.3 PENOKOHAN
Penokohan merupakan karakter yang diberikan pengarang kepada tokoh _tokoh di dalam cerita. “Penokohan adalah gambaran yang jelas tentang seseorang yang ditampilkan dalam sebuah cerita. Pengertian ini mengacu pada bagaimana cara pengarang memberikan perwatakan pada tokoh-tokoh ceritanya”. (Nurgiyantoro 2002:165).
2.4 ALUR
Alur merupakan hubungan sebab akibat yang membangun cerita. “Alur cerita adalah jaringan atau rangkaian yang membangun atau membentuk suatu cerita sejak awal hingga akhir” (Saliman, 1996:24). Jaringan atau rangkaian suatu peristiwa dalam novel disajikan dengan urutan tertentu. Terdapat sebuah perumpamaan alur itu sangkutan, tempat menyangkutkan bagian-bagian cerita, sehingga terbentuklah suatu bangun yang utuh. Sehingga sangat dibutuhkan adanya alur cerita untuk menghasilkan sebuah karangan yang urut dan utuh. Menurut Akhmah Saliman (1996:24) urutan alur terdiri atas 5 fase, yakni:
2.4.1. Perkenalan
Suatu cerita tentu diawali dengan sebuah peristiwa yang dialami tokoh sebagai prolog. “Cerita diawali dengan peristiwa tertentu dan berakhir dengan peristiwa tertentu lainnya, tanpa terikat pada urutan waktu”. (Sudjiman, 1992:31). Belum tentu peristiwa diawal cerita merupakan peristiwa pertama yang terjadi karena bisa jadi dibagian selanjutnya penulis menceritakan peristiwa yang sebelumnya. Untuk mengawali cerita dapat dimulai dengan memperkenalkan tokoh atau memaparkan latar tempat.
2.4.2. Awal Masalah
Setelah perkenalan akan muncul beberapa peristiwa yang menyebabkan masalah “Awal masalah adalah peristiwa permulaan timbulnya masalah. Hal ini ditimbulkan oleh masuknya seorang tokoh baru yang berlaku sebagai katalisator”. (Sudjiman, 1986:39). Permulaan masalah ditimbulkan oleh tokoh, berita, maupun peristiwa yang mulai membawa bibit permasalahan.
2.4.3. Menuju Klimaks
Setelah masuknya tokoh baru mulai terlihat, unsur-unsur yang mengarah ke ketidakstabilan makin jelas menuju ke perwujudan suatu pola konflik. “Tikaian ialah perselisihan yang timbul sebagai akibat adanya dua kekuatan yang bertentangan”. (Sudjiman, 1986:42).
2.4.4. Klimaks
Klimaks merupakan puncak dari sebuah konflik yang berkelanjutan. “Klimaks tercapai apabila rumitan mencapai puncak kehebatannya” (Sudjiman, 1986:41). Pada klimaks adalah puncak peristiwa setelah masalah masalah sebelumnya. Dari titik tinggi ini penyelesaian cerita biasanya sudah dapat dibayangkan.
2.4.5. Penyelesaian
Bagian struktur alur sesudah klimaks meliputi leraian yang menunjukkan perkembangan peristiwa ke arah penyelesaian. “Penyelesaian adalah bagian akhir atau penutup cerita”. (Sudjiman, 1992:36).
Ada tiga kategori penyelesaian sebuah cerita. Menurut DR. Panuti Sudjiman (1992:36) boleh jadi penyelesaian masalah yang melegakan (happy ending), boleh jadi juga penyelesaian masalah yang menyedihkan. Boleh jadi juga pokok masalah tetap menggantung tanpa pemecahan. Jadi tidak hanya ada novel yang berakhir dengan latar menggembirakan atau menyedihkan yang membuat si pembaca bahagia atau tangis haru, ada juga novel yang membuat si pembaca penasaran karena ketidakjelasan dari akhir ceritanya.
2.5. Latar (setting)
Latar merupakan gambaran mengenai keadaan fisik dan sosial dalam cerita. “Latar adalah latar belakang penceritaan diartikan bahwa suatu latar tidak hanya sekedar sebagai tempat terjadinya peritiwa-peristiwa atau lingkungannya yang mengelilingi para pelakunya tetapi juga sebagai petunjuk untuk mengetahui sistem kehidupan sosial yang hendak dilukiskan”. Asul Wiyanto (2002:78) latar mencakup tiga hal, yaitu setting tempat, setting waktu dan setting suasana.
2.5.1. Latar (setting) tempat
Latar tempat memberi gambaran tentang tempat terjadinya cerita. “Latar (setting) tempat adalah tempat peristiwa terjadi” (Wiyanto, 2002:82). Tempat terjadinya peristiwa, misalnya di halaman rumah atau sekolah, nama kota atau daerah, di jalan, di sebuah ruangan dan lain-lain.
2.5.2. Latar (setting) waktu
Latar waktu memberi gambaran tentang waktu terjadinya cerita. “Latar (setting) waktu adalah kapan peristiwa itu terjadi” (Wiyanto, 2002:82). Waktu terjadinya sebuah peristiwa misalnya pada zaman perang, pada zaman kemerdekaan, pada zaman kerajaan, dan pada masa perjuangan. Atau bisa jadi waktu terjadinya pada pagi hari, di siang hari, di suatu petang dan pada malam hari.
2.5.3. Latar (setting) suasana
Latar suasana memberi gambaran bagaimana suasana dalam cerita. “Latar (setting) suasana ada dua macam yaitu suasana batin dan suasana lahir” (Wiyanto, 2002:82). Suasana batin adalah suasana yang dialami oleh individu. Suasana yang dialami oleh individu tersebut seperti rasa bahagia, sedih, kecewa, jenuh dan sebagainya. Sedangkan suasana lahir adalah suasana yang terjadi di lingkungan sekitar. Suasana tersebut seperti ramai, hening, sunyi, dan sebagainya.

2.6 SUDUT PANDANG
Sudut pandang adalah cara pengarang menempatkan dirinya di dalam cerita atau dari sudut mana pengarang memandang ceritanya. “Cara memandang tokoh-tokoh cerita dengan menempatkan dirinya (pengarang) pada posisi tertentu disebut sudut pandang atau titik pandang atau pusat pengisahan” (Najid, 2003: 27). Sudut pandang juga termasuk strategi pengarang dalam membawakan cerita agar menarik. Ada beberapa macam sudut pandang yang terdapat dalam karya sastra, yaitu meliputi :
2.6.1. Sudut Pandang Orang Pertama
Sudut pandang ini biasanya menggunakan kata ganti aku atau saya. Dalam hal ini pengarang seakan-akan terlibat dalam cerita dan bertindak sebagai tokoh cerita.
2.6.2. Sudut Pandang Orang Ketiga
Sudut pandang ini biasanya menggunakan kata ganti orang ketiga seperti dia, ia atau nama orang yang dijadikan sebagai titik berat cerita.
2.6.3. Sudut Pandang Pengamat Serba Tahu
Dalam hal ini pengarang bertindak seolah-olah mengetahui segala peristiwa yang dialami tokoh dan tingkah laku tokoh.
2.7 AMANAT
Amanat merupakan pesan dalam karya sastra yang ingin disampaikan pengarang kepada pembaca. Pesan biasanya berisikan tentang nasihat atau perbuatan-perbuatan baik atau yang sesuai dengan norma-norma sosial. “Pengertian amanat itu sendiri ialah pemecahan yang diberikan oleh pengarang bagi persoalan di dalam karya sastra” (Sadikin, 2010:9). Hal-hal yang termuat didalam amanat sebuah karya sastra bisa dipastikan adalah suatu pesan positif dan membangun.
2.8 SINOPSIS
Sinopsis adalah suatu ringkasan karya sastra yang biasanya dibatasi ceritanya, tetapi tidak menghilangkan inti dari karya sastra tersebut dari awal cerita sampai akhir cerita. “Sinopsis merupakan ringkasan cerita yang mengutamakan alur atau plot yang tepat dan menarik dari suatu cerpen, novel atau drama”. (Rosidi, 2009:52. Walaupun sinopsis hanya menceritakan pokok dari karya sastra, sinopsis tidak boleh menghilangkan cerita yang ada didalam karangan aslinya. Salah satu tujuan dibuatnya sinopsis adalah untuk meningkatkan daya tarik dari buku atau karya sastra yang akan diedarkan ke publik.






:: Reply ::

Acc



 

Pengumuman PPMB

 

Artikel Popular

  • TUGAS SISWA KELAS XI
    TUGASSISWAXI - 13-01-2013 11:26:25  (132)
  • FAKTA & OPINI
    Tugassiswa - 18-07-2011 12:17:35  (119)
  • MENULIS SURAT LAMARAN PEKERJAAN
    TUGAS SISWA KELAS XII - 25-01-2013 17:08:37  (96)
  • KARYA TULIS ILMIAH
    ARTIKEL - 31-01-2012 10:02:57  (63)
  • TUGAS SISWA XII.2
    Tugassiswa - 20-09-2011 11:11:12  (59)
 
 
 

Musik

 
Home | Profil | Pengumuman

Copyright © 2011 Unair | Designed by Free CSS Templates