Dra. I. Mufidah, M.Pd
Tetap semangat dalam berkarya
 
 

Link Lain

 
 

Pengunjung

347211
 

Komentar TUGAS SISWA KELAS XI

BAB III
PEMBAHASAN UNSUR INTRINSIK
NOVEL ATHEIS
KARYA ACHDIAT KARTAMIHARDJA

Novel Atheis dipilih atau dijadikan dasar penelitian ini karena cukup menarik untuk dikaji. Selain itu pemilihan novel ini juga didasarkan pada pertimbangan bahwa novel Atheis dikarang oleh penulis karya sastra ternama Indonesia yang telah menggoreskan penanya pada era sebelum dan sesudah kemerdekaan Republik Indonesia.
Kelebihan yang terdapat pada novel Atheis terletak pada kisahnya yang cukup membuat para pembaca tersentuh dan terhanyut di dalamnya, yakni dimana seorang Hasan yang terseret dalam pergeseran gaya hidup tradisional ke gaya hidup yang modern. Pergeseran itulah yang kemudian membawa serta perselisihan dan bentrokan antara paham-paham lama dan baru yang disampaikan oleh tokoh-tokoh penguat sang tokoh utama, Hasan, yang terjadi khususnya di lapangan sosial budaya dan politik. Perkembangan di dalam masyarakat itu juga tidak luput meninggalkan pengaruhnya kepada pengalaman batin tokoh-tokoh lain. Keresahan batin pun dirasakan seorang Hasan di tengah-tengah bergeloranya pertentangan paham di zaman penjajahan Belanda dan Jepang menjadi pokok perhatian novel bergenre roman ini.
Kelebihan lain yang dimiliki oleh seorang Achdiat sebagai penulis novel ini terletak pada penggambaran tokohnya yang teramat baik dan detil yakni tokoh Hasan yang berkedudukan sebagai tokoh utamanya, dimana seorang Achdiat menggambarkannya sebagai seoarang yang awalnya alim, lugu dan berhati teguh, namun lama kelamaan berubah dan kehilangan sifat alimnya karena pengaruh dari sana-sini. Juga tokoh Rusli yang sangat pandai untuk mempengaruhi, berpegang prinsip cukup kuat, dan seorang Atheis. Lalu ada lagi tokoh Anwar yang bersifat tak acuh pada dunia, atheis, dan egois. Kemudian tokoh wanita utama yakni Kartini sebagai tokoh wanita yang modernis dan progresif, dapat digambarkan dengan sangat baik. Begitulah seorang Achdiat K. Mihardja yang dapat menggambarkan dan mengatur sifat serta watak tokoh tanpa terlalu stereotip ataupun karikatur.
Masalah lain yang dapat dikaji dalam penelitian ini terdapat pada alur flashbacknya yang digunakan oleh Achdiat dan disusun begitu memukau. Dari cerita awal sang penulis mengenal sosok Hasan kemudian menceritakan kehidupan dan penggambaran sang tokoh, lalu mendapati sebuah klimaks yang tak henti-hentinya menerjang kehidupan tokoh, dan lalu berakhir cukup mengesankan.
Dengan latar tempat, waktu, dan suasana yang pas seperti saat Hasan pertama kali menginjakkan kakinya di sebuah perkotaan tepatnya di Kota Bandung, saat itu pula ia bertemu dengan teman lamanya dan tokoh-tokoh baru yang mengubah paham tokoh seorang Hasan, kemudian dalam suasana dengan berbagai macam konflik yang cukup menegangkan, pun menjadi daya tarik bagi pembaca.
Berdasarkan uraian di atas, maka penulis akan menganalisis unsur-unsur intrinsik yang terdapat dalam Novel Atheis.
3.1. Sinopsis Novel Atheis
Setelah lulus MULO, Hasan diangkat menjadi pegawai Gemeente (Kotapraja) Bandung. Dengan membawa sekeranjang nasihat dari keluarganya Hasan meninggalkan kampung Panyeredan dan tinggal di Kota Bandung. Mula-mula merasa agak asing juga tinggal di kota besar yang oenuh dengan berbagai kejadian yang kadang-kadang bertolak belakang dengan ajaran agamanya. Namun di kota yang demikian ramainya Hasan justru merasa sepi, karena belum punya kawan.
Bulan-bulan pertama dilalui dengan sepi. Hingga pada suatu hari Hasan kedatangan 2 orang tamu di kantornya. Mereka adalah Rusli, bekas kawan sewaktu masih di HIS dan seorang wanita cantik bernama Kartini. Kedatangan mereka memberikan angin baru bagi Hasan. Ia tidak merasa sepi lagi tinggal di Bandung karena ada mereka, terutama ada Kartini yang telah membangkitkan perasaan batinnya. Hasan jatuh cinta terhadap Kartini, dan cintanya itu tidak sia-sia. Bahkan akhirnya Hasan berani mengambil resiko membiarkan Rukmini, tunangannya yang setia itu, terlantar begitu saja. Kartini begitu pandai mengambil hati Hasan dan menanamkan faham yang dimilikinya.
Persahabatannya dengan Rusli dan Anwar semakin membawa Hasan ke dunia lain yang selaa ini dijalaninya. Rusli, Anwar, dan Kartini berkeinginan agar setiap orang berpikir logis dan tidak usah terbelenggu oleh hal yang bukan-bukan. Menurut mereka agama itu muncul dari keruntuhan suatu masyarakat, sedangkan Tuhan hanyalah ciptaan manusia semata. Sebagai manusia yang berpikiran logis, kata mereka Tuhan sudah saatnya harus berganti rupa dengan teknologi, politik, dan ekonomi.
Perkawinan dengan Kartini memperlengkap kehancuran jiwa Hasan. Ia yang sejak kecil menerima pendidikan agama dan masalah-masalah keTuhanan mulai memudar. Anwar, seniman yang anarkis melengkapi kehancuran itu. Hingga akhirnya Hasan berubah menjadi Atheis. Dia yang dulu taat beribadah dan memuji-muji Tuhan sekarang menjadi sebaliknya. Di hadapan orang tuanya ia sudah berani menentang ajaran agama dan Tuhannya. Akibatnya oleh orang tuanya Hasan tidak diakui sebagai anggota keluarga lagi.
Dalam hidup berkeluarga dengan Kartini, Hasan tidak memperoleh kebahagiaan seperti yang dicita-citakannya. Kartini menyukai kehidupan bebas, pergaulan bebas yang sebebas-bebasnya. Kerukunan yang diinginkan adalah kerukunan yang didasari oleh kebebasan masing-masing pihak. Maka tidak mustahil Kartini tampak sering berduaan bersama Anwar, seniman anarkis itu. Perkawinan mereka berakhir dengan kehancuran total diri Hasan. Ia bercerai dengan Kartini. Anehnya, setelah perceraian itu Rusli dan Anwar tidak pernah lagi muncul ke rumahnya.
Diam-diam Hasan menyadari bahwa dirinya telah dijerumuskan oleh mereka ke jurang yang paling nista. Ia mulai teringat kembali kepada Tuhan dan agama yang dulu pernah dimilikinya. Ia pun berusaha kemblao menghadap Tuhan, melaksanakan ajaran-ajaran agama-Nya.
Akibat tekanan batin yang bertubi-tubi membuat penyakit TBC yang dimilikinya semakin merajalela pada dirinya. Jalan pikiran Hasan sudah tidak lurus lagi. Ia terombang-ambing oleh kemelutnya sendiri. Ia putus asa. Akibatnya ia tak mengiraukan alarm, tanda bahay yang terdengar ketika itu. Hasan terus berlari. Tentara Jepang yang melihatnya melepaskan tembakan. Hasan tersungkur akibat peluru yang menmbus pahanya. Ia dijebloskan ke dalam tahanan Jepang dan mati di sana. Sebelum mati ia sempat mengucapkan lantunan kata âAllahuakbar...â
3.2. Pembahasan Tema Novel Atheis
Setelah membaca naskah novel Atheis bergenre roman karya Achdiat K. Mihardja, dapat ditentukan sebuah tema dari novel tersebut, yakni kegoncangan kepercayaan yang dialami Hasan, seorang pemuda yang isi hatinya mendesak-desak dan terpecah-pecah dalam kegugupan karena tidak bisa memilih pendirian yang benar. Cara seorang tokoh Rusli berbicara mengemukakan pendapatnya yang ramah, dan simpatik memperoleh sukses, mendapat tempat di hati Hasan. Ia merasa menjadi manusia baru. Karena imannya telah goncang, ia menjadi lebih merasa sebagai atheis meskipun Rusli dan Anwar belum menganggapnya sebagai atheis.
Bagaimanapun, kegoncangan perasaan dan kepercayaan itu tetap menguasai Hasan meskipun secara fisik ia telah masuk sepenuhnya kedalam kelompok atheis. Setelah memasuki dunia atheis kegoncangan kepercayaan yang dideritanya berkembang menjadi konflik kejiwaan. Konflik itu timbul semenjak ia mulai kenal dengan Kartini. Hasan yang tadinya berkeyakinan mistik dengan pembatasan pergaulan laki-laki perempuan yang ketat, merasa kaget dengan kenyataan hidup modern, bebas lepas yang diperihatkan Kartini yang kemudian dikawininya dengan harapan bisa mengembalikannya ke jalan yang benar. Harapan ini membuahkan hal yang sebaliknya, ia sendiri tenggelam dalam ketidakbenaran. Gambaran kebimbangan si Hasan tampak pada kutipan berikut. âSejak malam Rabu itu, jadi empat hari yang lalu, aku seolah-olah terombang-ambing di antara riang dan bimbang. Riang aku, apabila terkenang-kenang kepada Kartini yang sejak malam itu makin mengikat hatiku saja. Tapi bimbanglah aku, apabila aku teringat-ingat kepada segala pemandangan dan pendirian Rusli, yang sedikit banyaknya memengaruhi juga pikiran dan pendiriankuâ (Mihardja, 2000: 90).
Menghadapi Rusli, ia sudah kalah mental. Kalau sebelumnya ia bertekad mengislamkan kafir modern, kenyataannya ia menjadi korban kekerdilannya. Ia adalah Islam mistik yang dikafirkan, atau dengan kata lain, hubungan vertikal yang dihorisontalkan.
3.4. Pembahasan Tokoh, Perwatakan, dan Penokohan Novel Atheis
3.4.1. Tokoh dan Penokohan Novel Atheis
Penggolongan jenis tokoh berdarkan keterkaitan dengan konflik, dibagi menjadi 3. Diantaranya 1) Tokoh Protagonis 2) Tokoh Antagonis 3) Tokoh Tritagonis.
3.4.1.1. Tokoh Protagonis Novel Atheis
3.4.1.1.1. Hasan
Dalam novel Atheis, pengarang (Achdiat K. Mihardja) memperkenalkan keadaan lahiriah pelaku yang mencerminkan kehidupan orang biasa yang dirundung oleh kesulitan hidup, sedang yang lain mengilustrasikan kehidupan orang intelek dan modern. Tampak pada kutipan berikut ini. âSeperti namanya pula, rupa dan tampang Hasan pun biasa saja, sederhana. Hanya badannya kurus, dan karena kurus itulah maka nampaknya seperti orang yang tinggi. Mata dan pipinya cekungâ (Mihardja, 2000: 07).
âLaki-laki itu kira-kira berumur dua puluh delapan tahun. Parasnya tampan,matanya menyinarkan intelek yang tajam. Kening di atas hidungnya bergurat, tanda banyak berpikir. Pakaiannya yang terdiri dari sebuah pantaloon. Flanel kuning dan kemeja kreme, serta pantas dan bersih. Ia tidak berbaju jas, tidak berdasiâ (Mihardja, 2000: 26). Pengarang menceritakan bahwa keadaan alam sekitar berpengaruh besar terhadap diri pelaku utama, yaitu Hasan. Sebagai warga kampung, Hasan biasa hidup dalam keadaan yang sederhana, pengetahuan pun tidak luas. Corak kehidupan ini akan berpengaruh besar terhadap kehidupan Hasan selanjutnya, terhadap sikap dan tingkah laku. Sejak kecil Hasan anak yang taat, pemeluk agama Islam yang tekun.
Setelah bergaul dengan Rusli, Kartini, Anwar, dan kawan-kawanya, Hasan menjadi orang yang melalaikan ajaran agama. Hasan menjadi berani menentang orang tuanya. Imannya goyah dan hanyut pada aliran paham teman-temannya, yaitu Marxisme. Setelah keinginanannya hidup berbahagia bersama Kartini tidak berhasil, Hasan menjadi sadar kembali menyesali kelalaiannya. Paham Marxis yang ditanamkan oleh Rusli ternyata menggoyahkan iman Hasan. Dia sulit mencapai suasana khusyuk. Bermacam-macam masalah yang didengar dari Rusli terus menggoda pikirannya. Dengan demikian dengan cara lukisan ini pembaca dapat menilai kemampuan Rusli dalam menyebarluaskan paham Marxis.
âKeras aku mengucapkan nama Tuhan itu pada tiap kali aku berubah sikap. Keras-keras, supaya bisa mengatasi suara hati dan pikiran. Keras-keras pula nama Tuhan itu kuucapkan dalam hati. Tapi tak lama kemudian melantur-lantur lagi pikiran itu. Sekarang malah makin simpang siur, makin kacau rasanyaâ (Mihardja, 2000: 45). Kutipan di atas menggambarkan betapa lemahnya Hasan. Berlarut-larut Hasan memikirkn apa yang telah diomongkan Rusli. Dengan pengetahuan dan pengalaman yang masih dangkal ia berpendapat bahwa dengan sering mengucapkan nama Tuhan dengan keras-keras ia akan dapat mengatasi kekacauan pikirannya. Jalan pikiran Hasan yang demikian ini, menimbulkan kesan bahwa Hasan belum memiliki cara berpikir yang matang, kehidupan psikis yang belum dewasa, iman Hasan tampaknya juga belum mantap.
3.4.1.2. Tokoh Antagonis Novel Atheis
3.4.1.2.1. Anwar
Anwar adalah rekan dari Rusli dan Kartini. Ia merupakan seorang seniman anarkhis dan ramah. Seperti dikutip, bagaimana fisik dari Anwar. âIa pemuda yang cakap rupanya. Kulitnya kuning seperti kulit orang Cina dan matanya pun agak sipit. Mungkin ia keturunan Cina/Jepang. Ia berkumis kecil seperti sepot sapu lidi masuk ter dan janggutnya jarang â jarang seperti akar yang liar. Rambutnya belum bercukur. (Mihardja, 2000: 101).
Selain itu, disebutkan juga bahwa Anwar adalah seorang yang periang dan selalu beranggapan bahwa Tuhan itu adalah dia sendiri. Kalimat itu dapat dibuktikan pada kuitpan berikut. âKalau menurut saya, Tuhan itu adalah aku sendiri (telunjuknya sendiri menusuk dadanya)â (Mihardja, 2000: 11).
Anwar termasuk orang yang individualis anarkhis dan suka memaksakan kehendaknya. Semua itu dapat dibuktikan pada kutipan, âIa suka sekali mendesak-desakkan kehendak atau pendapatnya sendiri. Dalam hal ia selalu agresif. Selalu polemis dan mengemukakan dirinya sendiri, seolah-olah dialah saja yang paling pintar, paling benar dan tak diinsyafinya agaknya, bahwa kebenaran itu terlalu besar untuk dimonopoli oleh hanya 1 orang saja, seorang Anwarâ (Mihardja, 2000: 130).
3.4.1.2.2. Kartini
Kartini adalah seorang wanita yang modern. Sebelum kawin dengan Hasan, kebiasannya ialah bergaul bebas dengan laki-laki bukan muhrimnya. Setelah kawin kebiasaan-kebiasaan itu masih dijalankannya juga. Angkah malangnya bagi Kartini, karena ia sebgai seorang gadis remaja yang masih suka berplesiran dan belajar dalam suasana bebas, sesudah kawin dengan Arab tua itu (notabene sebagai istri keempat) seakan-akan dijebloskan ke dalam penjara, karena harushidup secara anita Arab dalam kurungan. Maka tidak mengherankan, kalau kartini setelah bibinya meninggal dunia segera melarikan diri dari lingkungan si Arab tua itu. âDan tidaklah mengherankan pula agakya, kalau ia yang sudahmengicip-icip pelajaran dan didikan modern sedikit,dikit, kemuda setelah ia lepas dari penjara timur kolot itu segera menempuh cara hidup yang kebarat-baratanâ (Mihardja, 2000: 35).
3.4.1.3. Tokoh Tritagonis Novel Atheis
3.4.1.3.1. Batin Hasan
Tokoh tritagonis biasanya sangat berperan ketika cerita hampir selesai. Tokoh yang biasa disebut sebagai tokoh pendamping ini bertfungsi untuk meredakan konflik antara tokoh protagonis dan tokoh antagonis.
Seperti halnya dari kisah novel Atheis yang sudah saya teliti, saya menemukan tokoh tritagonisnya yakni batin Hasan. Di sini, batin Hasan sangatlah berperan ketika akhir cerita dan inilah yang menjadikan konflik antara tokoh protagonis (Hasan sendiri) dan tokoh antagonis (Anwar dan Kartini) mencapai tahap penyelesaian.
Hal tersebut dapat dibuktikan dengan kutipan, âHasan kembali lagi kepada sikap seperti bermula. Melengkung lagi pinggangnya. Tapi tangannya berkepal, dan giginya berderik-derik, âYa, si Anwarlah yang sudah menyesatkan daku! Begitu juga dengan Kartini dan Rusli. Mereka yang membikin aku berbentrokan dengan ayahku sendiriâ (Mihardja, 2000: 220). Hasan mulai tersadar akan kehidupannya selama ini yang telah membuat Hasan kacau semenjak bergaul dengan ketiga rekannya yang termasuk atheis.
Lalu, ada juga bukti-bukti yang memperkuat bahwa tokoh tritagonis dalam novel Atheis adalah batin Hasan. Hal tersebut ditandai pada kutipan berikut. âYa, memang aku sudah bersalah, aku terima segala dosakuâ (Mihardja, 2000: 220). Diiringi derai amarah dan tangis, Hasan pun terisak dalam penyesalannya yang amat mendalam. Dia mulai sadar bahwa ia telah bersalah dan oleh karena itu, ia siap menerima hukuman dosanya.
âHasan teringat lagi kepada Tuhan. Bersujud lagi ia dalam hatinya kehadirat-Nya dengan ketaatan dan kemesraan seperti duluâ (Mihardja, 2000: 222). Situasi hati Hasan mulai mereda. Sebab ia sudah bisa kembali dalam ketaatannya dulu. Ketika itu, mulailah ia merasa jauh lebih tenang dan damai.
Adapun dalam novel Atheis ini tokoh-tokoh pendukung yang juga ikut mendukung adanya 3 tokoh utama di atas. Diantaranya Rusli, Raden Wiradikarta (ayah Hasan), ibu Hasan, Haji Dahlan, Kiai Mahmud, Fatimah, bung Parta, bibi Hasan, Minah, Mimi, ibu Kartini, pak Artasan, pak Ahim, Amat, Siti.
3.4.2. Perwatakan Novel Atheis
3.4.2.1. Hasan
3.4.2.1.1. Tidak Berpendirian Tetap
âTapi biar bagaimanapun juga yang nyata kini, ialah bahwa aku sekarang sudah berganti keadaan. Keadaan bahagia sejati. Tak ada di dunia ini yang diam, yang kekal, melainkan berganti-ganti terus, berubah-ubah terusâ (Mihardja, 2000: 127). Hasan bercerita tentang keadaan hidupnya kini yang telah berubah semenjak mengenal Rusli dan Kartini. Ia seolah merasa telah menemukan kebahagiaannya yang sejati. Hingga ia mengubah jalan hidupnya dari seorang hidup dalam kemistikan menjadi seorang yang hidup dalam realitas.
âHanyalah harus kuakui, bahwa âtuduhanâ Rusli bahwa orang yang suka kepada mistik itu adalah seorang âpelarianâ yang lemah jiwanya, yang tidak sanggup menempuh jalan hidup yang nyata ini, sangat berpengaruh kepada pendirianku sekarangâ (Mihardja, 2000: 127). Begitulah semenjak Rusli menceritakan tuduhan-tuduhan pada Hasan yang menyatakan bahwa seorang penganut mistik itu adalah seorang yang rendah jiwanya. Tertancaplah kata-kata itu pada hati Hasan hingga membuatnya lambat laun menjadi seoarang Marxis seperti Rusli, seorang atheis.
âPendeknya, kurasai benar perobahan jiwa dan pendapatkuâ (Mihardja, 2000: 129). Hasan membenarkan perasaanya saat itu yang telah berganti pendirian karena telah terhasut oleh kehidupan serta pernyataan Rusli padanya.
âItulah yang kunamakan sandiwara dengan diri sendiri. Mengelabui mata sendiri. Tidak setia pada pendirian sendiri. Opurtunis, sebab selalu mau tiru-tiru orang lain sajaâ (Mihardja, 2000: 136-137). Anwar memuncratkan semua pikirannya seperti peluru yang semuanya ditujukan pada Hasan. Ia berbicara seperti itu karena tidak suka melihat orang yang tidak mempunyai pendirian tetap seperti yang Hasan lakukan pada Rusli dan Kartini serta orang tuanya.
3.4.2.1.2. Romantis
âEntahlah, melihat keindahan alam itu, serasa hanyutlah aku turut mengalun dengan arus romantik, meluncur ke laut rindu. Rindu kepada orang Lengkong Besarâ (Mihardja, 2000: 139). Hasan tak bisa keluar dari keadaan romantik malam itu. Walaupun keadaan itu ia tujukan dengan perasaan rindu yang amat mendalam pada orang Lengkong Besar, yakni Kartini.
âMendengar suaraku yang sayu dan romantis itu, meloncatlah Anwar tiba-tiba ke halamanâ (Mihardja, 2000: 139). Saking rindunya ia pada Kartini karena sedang berada di kampungnya, Hasan tidak bisa tidur hingga ia mencoba pergi ke halaman dan mengucap kata-kata romantis sambil menikmati panorama malam itu. Tak disangka, ucapannya saat itu telah mengundang sosok Anwar untuk ikut menemaninya.
3.4.2.2. Anwar
3.4.2.2.1. Periang
Awal bertemu dengan Anwar dan berbincang akan suatu hal di rumah Rusli saat itu, Hasan langsung menilai bahwa Anwar adalah seorang yang periang. Ia menceritakan pengalamannya ketika berpisah dengan Rusli pada Hasan dan Kartini dengan gaya bicara yang cukup keras dan menggebu-gebu. Belum lagi bahasanya yang dapat membuat Hasan terhibur. Terbukti pada kutipan berikut. âSambil menunggu makanan, kami bercakap-cakap lagi. Anwar ternyata seorang periang. Suka tertawa. Bicaranya kerasâ (Mihardja, 2000: 102).
âAnwar tertawa. Yang lain-lain pun tertawaâ (Mihardja, 2000: 102). Disebutkan di sini bahwa saat bercerita, Anwar lah jagonya. Karena sifatnya yang periang, ia mampu membuat orang-orang di sekitarnya juga hanyut dalam cerita dengan gayanya yang begitu riang dan semangat.
3.4.2.2.2. Anarkhis
âMereka makan sangat gelojoh. Terutama Anwar. Ia makan seperti kudaâ (Mihardja, 2000: 103). Ketika disuguhi makanan, semua sangat bersemangat. Tidak terkecuali pada Anwar. Ia makan begitu bersemangat sampai orang-orang berpikir jika Anwar makan seperti kuda. Sangat cepat dan lahap.
âAnwar berteriak tiba-tiba, hingga membuat orang-orang kaget. âHai jongos! Minta air teh satu ya!â katanya kemudian seolah-olah tak peduli akan orang-orang sekelilingnya, ia mengisap rokoknya dengan helaan napas panjangâ (Mihardja, 2000: 105). Anwar bagitu anarkis dan acuh tak acuh. Ia berteriak dan merokok seenaknya dengan tidak memikirkan bagaimana kondisi di sekelilingnya saat itu.
âDicambuknya kuda berkali-kali. Kaki Anwar memijak-mijak bel seperti seorang drummer yang bermain lagu hot. Orang-orang yang lewat beterbangan ke pinggir seperti ayam ketakutanâ (Mihardja, 2000: 131). Hasan dan Anwar saat itu hendak mengunjungi kampung Panyeredaan. Mereka hendak ke sana dengan memakai delman. Tidak mengira, Anwar menawarkan diri menjadi kusirnya. Namun saat ia memegang kendali menjadin kusir, ia mengendalikannya dengan saat kasar dan tidak tahu aturan. Hasan dan pak kusir yang sebenarnya pun sangat cemas dan khawatir apalagi saat mereka melihat Anwar yang gembira mengendalikan delman seperti itu.
3.4.2.3. Kartini
3.4.2.3.1. Modern
âMungkin ia lebih tua, tapi pakaian dan lagak-lagunya mengurangi umurnya. Ia memakai kebaya merah dari sutra tipis, ditaburi dengan bunga melati kecil-kecil yang lebih putih nampaknya di atas latar yang merahâ (Mihardja, 2000: 30-31). Walaupun penampilannya (Kartini) bisa dibilang cukup modern, namun wajah Kartini tidak bisa menyembunyikan umurnya yang sedikit kontras dengan penampilannya.
âBibirnya merah dengan lipstick dan pipinya memakai rouge yang tidak terlalu merah. Segala-galanya serba modern, tapi tepat sederhana, tidak dilebih-lebihkanâ (Mihardja, 2000: 40). Di satu sisi, sebenarnya penampilan Kartini bisa dibilang cukup natural. Akan tetapi, di sisi lain, penampilannya juga tidak bisa dipungkiri bahwa itu termasuk penampilan dengan gaya modern.
âKemudian Kartini mengeluarkan satu pak sigaret dari tasnya lantas disodorkannya kepadakuâ (Mihardja, 2000: 42). Kehidupan Kartini yang terlalu bebas itu sampai membuat ia menjadi suka juga memainkan asap seperti merokok. Persis sekali dengan kehidupan orang modern pada zaman itu.
3.4.2.3.1. Tegas
âYa bung, pengalamannya yang pahit itulah telah membikin dia menjadi seorang Srikandi yang berideologi tegas dan radikalâ (Mihardja, 2000: 38). Sejak menerima pengalaman yang pahit dalam hidupnya, Kartini mulai sadar untuk ke depannya lebih tegas lagi menentang stelsel. Ia belajar politik hingga menjadi sorang yang mempunyai ideologi tegas sekaligus radikal.
3.3. Pembahasan Latar atau Setting Novel Atheis
Latar pada novel Atheis ini dapat meliputi berbagai hal, diantaranya merupakan tempat termasuk benda-benda yang ada di lingkungan tempat itu, di waktu itu, maupun di suasana itu.
3.3.1. Latar Tempat
Dalam hal ini pengarang melukiskan beberapa tempat yang bisa dibilang cukup sederhana, tetapi memang cukup pas jika digunakan dalam kisah di novel ini. Beberapa gaya penjabaran mengenai tempat-tempat tersebut juga ditulis oleh sang pengarang dengan teramat indah dan jelas. Berikut beberapa tempat yang dituturkan oleh pengarang beserta kutipan yang memperkuat tempat tersebut adanya.
3.3.1.1. Kampung Panyeredan
Di daerah yang begitu sederhana itu, pengarang menggambarkan kehidupan yang sederhana dan dihuni oleh orang-orang yang sederhana pula, termasuk cara berpikirnya. Gambaran tentang kesederhanaan tampak pada kutipan, âDi lereng Gunung Telaga Bodas di tengah-tengah Pegunungan Priangan yang indah, terletak sebuah kampung, bersembunyi di balik hijau pohon-pohon jeruk garut, yang segar dan subur tumbuhnya berkat tanah dan hawayang nyaman dan sejuk. Kampung Panyeredan namanya. Kampung ini terdiri dari kurang dua ratus rumah besar kecilâ (Mihardja, 2000: 10).
Selain itu, bukti lain yang menyatakan bahwa latar tersebut berada di kampung Panyeredan yaitu, âDengan delman itu, kami dibawa ke kampung Panyeredan, kira-kira lima kilometer ke atasâ (Mihardja, 2000: 131).
3.3.1.2. Kota Bandung
Di Kota Bandung ini banyak sekali kisah yang digoreskan dengan jelas bahwa menunjukkan latar tempat tersebut berada di Bandung. Berikut kutipan-kutipannya.
âAku tunduk saja. Mengerti aku, bahwa orang tuaku itu takut kalau â kalau aku akan menjadi buaya atau akan tersesat ke jalan pelacuran. Maklumlah kota Bandungâ (Mihardja, 2000: 26). Dari kutipan ini, jelaslah bahwa Hasan berusaha menuruti apa kata orang tuanya saat dia hendak pergi ke Bandung.
Ada pula, latar tempat berada di Bandung yang juga disebutkan saat Hasan bersekolah di Mulo, Bandung. âPerasaan demikian itu dulu pun pernah ada padaku, yaitu ketika aku baru meninggalkan kampung halamanku pindah sekolah ke kota besar, ke Mulo di Bandung. Ketika itu pun aku merasa diriku sebagai seorang manusia baru, yang telah menginjak dunia dan alam baru...â (Mihardja, 2000: 27).
âLoket bagian jawatan air dari Kotapraja tidak begitu ramai seperti biasa. Ruangan di muka loket-loket yang berderet itu sudah tipis orang-orangnyaâ (Mihardja, 2000: 30). Hasan sudah mulai bekerja di salah satu kantor di Kota Bandung, tepatnya di Kantor Kotapraja. Seiring bagaimana situasi di tempat ia bekerja, pengarang juga menjelaskan bagaimana lokasi tersebut hingga pembaca dapat mudah untuk memahaminya.
Kutipan lain yang cukup dijadikan sebagai bukti bahwa latar tempat dalam novel ini salah satunya adalah di Kota Bandung, yakni âSeperti kebanyakan rumah di kota dingin seperti Bandung, serambi muka ditutup dengan kacaâ (Mihardja, 2000: 36).
Lalu kata-kata yang menceritakan sebagian daerah dan jalan-jalan di Kota Bandung, âAku tidak suka kepada keriuhan dan keramaian seperti itu. Oleh karena itu aku tidak mengambil jalan Braga, melainkan membelok ke kanan, ke Jalan Landraad, terus ke alun-alun, lewat Banceuyâ (Mihardja, 2000: 99).
Terakhir yang dapat saya kutip dari novel ini yang berlatar tempat di kota Bandung, yakni âStasiun Bandung sudah samara-samara diselimuti oleh senja, ketika kereta api dari Cibatu masuk. Matahari sedang mengundurkan diri, pelan-pelan dan hati-hati seperti pencuri yang hendak meninggalkan kamar untuk menghilang ke dalam gelap.
Kota Bandung tidak seperti tiga tahun yang lalu. Pada senja hari yang indah seperti itu, di zaman yang lalu kota itu seolah-seolah mulai berdandan. Lampu-lampu listrik di jalan- jalan, di toko-toko dan di rumah-rumah mulai dipasang, seakan-akan manusia bersedia-sedia untuk mulai berjuang membantu Ormurd, dewa terang, dalam perjuangannya yang abadi melawan Ahtiman, dewa gelapâ (Mihardja, 2000: 224). Begitu pandangan Hasan terhadap situasi kota Bandung ketika Hasan mengunjungi stasiun hendak pergi ke Tegallega.
3.3.1.3. Garut
Selain menggunakan latar tempat di Kota Bandung, pengarang juga menampilkan satu sisi dari daerah Garut. Dimana di Garut itulah orang tuanya tinggal. Berikut bukti kutipan yang berhasil saya ambil dari novel ini dan dapat menguatkan bukti bahwa latar tersebut memang di Garut adanya, âDi lereng gunung Telaga Boda di tengah-tengah pergunungan Priangan yang indah, terletak sebuah kampung, bersembunyi di balik hijau pohon-pohon jeruk Garut, yang segar dan subur tumbuhnya berkat tanah dan hawa yang nyaman dan sejukâ (Mihardja, 2000: 16).
3.3.2. Latar Waktu
Latar waktu cerita ini terjadi dari tahun 1940âan ketika Belanda dan Jepang mulai memperebutkan Indonesia sebagai tanah jajahannya. Sampai massa menjelang proklamasi kemerdekaan ketika perang dunia II mulai. Hal ini dibuktikan dari tanggal pernikahan Hasan dan Kartini yaitu tanggal 12 Februari 1941. Dan dijelaskan dalam novel pada halaman 171 bahwa pemerintah Hindia â Belanda tekuk lutut kepada kekuasaan balatentara Dai Nippon dengan tidak memakai syarat apa â apa. Selain itu, akhir hayat Hasan, dia dibunuh oleh Kusyu Heiho ( yaitu tentara Jepang ) karena dianggap mata â mata. Selain itu juga terdapat latar waktu lainnya yang mengisahkan cerita itu dengan detil terjadi saat hari dalam keadaan sore maupun malam hari.
3.3.2.1. Sore Hari
âDatanglah nanti sore, kalau saudara sempat. Nanti kita ngobrol. Datanglah kira-kira setengah lima begitu!â (Mihardja, 2000: 32). Rusli mengundang Hasan untuk datang ke rumahnya terlebih dahulu sebagai ucapan selamat atas kedatangan Hasan di Bandung dan juga sebab Rusli rindu pada teman kecilnya itu.
âSampai nanti sore, Bung!â (Mihardja, 2000: 33). Sambil berlalu dengan Kartini dari loket keuangan, Rusli menabik tangan kanannya seraya berpesan pada Hasan bahwa ia menunggu untuk bertemu lagi dengan Hasan di rumahnya sore itu.
âTidak terlalu sore saya datang?!â (Mihardja, 2000: 39). Kartini bertanya sembari tersenyum menyapa Rusli yang telah membukakan pintu untuknya. Dan kemudian kakinya meloncat dari tangga ke ambang pintu.
âAgak panas sore iniâ (Mihardja, 2000: 40). Setelah duduk dan kemudian melihat Kartini mengipas-ngipas mukanya dengan sebuah kipas kecil dari ebonit, Rusli membenarkan sikap Kartini dengan berkata jika sore itu memang agak panas.
âTapi, sore esoknya aku sudah mendayung lagi menuju Kebon Mangguâ (Mihardja, 2000: 60). Hasan mengunjungi rumah Rusli untuk yang kesekian kalinya. Entah bagaimana padahal setelah melakukan sembahyang malam sebelumnya, ia berkeputusan bahwa tak akan menemui Rusli dan Kartini lagi. Namun hatinya yang terus mendorong untuk dapat mengislamkan mereka, Hasan akhirnya berpindah niat untuk tidak menjauhi mereka.
âSore itu, setelah berkelahi dengan Hasan, Kartini dengan bersedih hati lalu meninggalkan rumahnyaâ (Mihardja, 2000: 199). Kartini hendak pergi dari rumahnya karena ingin menyingkiri api amarah yang berkobar-kobar di antara dia dan suaminya (Hasan) itu. Oleh sebab itu, ia pergi dari rumahnya dengan diam-diam.
âMatahari sedang mengundurkan diri, pelan-pelan dan hati-hati seperti pencuri yang hendak menghilang ke dalam gelapâ (Mihardja, 2000: 210). Senja di stasiun Bandung itu mulai menampakkan dirinya. Dan kemudian segera berganti dengan langit gelap. Begitulah suasana sore saat Hasan hendak pulang ke Tegallega.
âBenar kata orang, bahwa kota Bandung yang mendapat julukan âParis pulau Jawaâ, mulai hidup dari jam 6 soreâ (Mihardja, 2000: 210). Suasana sore yang sangat indah dilengkapi dengan senjanya yang melengkapi kemegahan langit Bandung itu, benar-benar menunjukkan sisi lain kota Bandung yang memang kata orang mirip dengan kota Paris.
âPada saat Hasan tiba, kira-kira pada pukul 5 sore, kebetulan sekali dokter dari Garut baru saja selesai memeriksa Raden Wiraâ (Mihardja, 2000: 214). Raden Wira, ayah Hasan nampaknya sedang diperiksa oleh dokter. Kata dokter, penyakit beliau sangatlah berat. Dokter juga sempat berpesan pada Hasan agar ia menjaga baik-baik keadaan ayahnya.
3.3.2.2. Malam Hari
âPada suatu malam datang lagi ia ke rumahku. Seperti biasanya pada malam hari, ia memakai mantel gabardin hijau tua yang tertutup lehernyaâ (Mihardja, 2000: 13). Hasan ke rumah sang pengarang dengan memakai pakaian yang cukup tertutup dan dilapisi mantel, sebab selain udara malam hari sangatlah dingin, Hasan juga berpenyakit dada.
âSemalam-malaman itu saya baca naskah Hasan itu sampai tamatâ (Mihardja, 2000: 15). Hasan menyodorkan beberapa lembar karangannya kepada sang pengarang yang ternyata setelah dibaca adalah sebuah âautobiographical novelâ. Dari situ, mulailah sang pengarang menceritakan naskah tersebut.
âTiga malam Haji Dahlan menginap di rumah orang tuakuâ (Mihardja, 2000: 17). Saat ayah Hasan masih menjadi guru bantu di Tasikmalaya, beliau kedatangan tamu, yakni haji dari Banten, Haji Dahlan, yang rupanya masih famili dari Ibu Hasan.
âMalam sudah sunyi benar. Radio punya tetangga sudah bungkemâ (Mihardja, 2000: 53). Hasan merajuk-rajuk dan bangkit dari tempat tidurnya. Lalu ia duduk di depan meja dan merasakan suasana di luar yang sudah gelap gulita menunjukkan bahwa saat itu adalah malam hari.
âMalam sudah sangat sunyi. Bersorak rotan, kalau aku berubah duduk di atas kursi. Jam bertiktak di ruang tengah. Cecak-cecak bercerecekâ (Mihardja, 2000: 55). Hari yang sudah menunjukkan waktu malam hari itu, Hasan belum juga tertidur karena terus memikirkan beberapa hal. Tepat saat jam dinding berbunyi, Hasan bangkit dan lekas mengambil air wudu untuk melakukan sembahyang.
âMalam itu, aku merasa kecewa, karena sudah masak kuidam-idamkan akan berkunjung ke rumah Rusli sore itu, tapi Rusli pergiâ (Mihardja, 2000: 58). Ingin sekali Hasan berkunjung lagi ke rumah Rusli. Tidak lain karena ingin bertemu dengan Kartini. Akan tetapi, nyatanya Rusli sedang pergi. Ia kecewa. Terlebih saat mengetahui bahwa Rusli pergi dengan Kartini.
âMalam sunyi, tapi karena sunyi itu makin ramailah terdengar suara bermcam-macam di dalam hatikuâ (Mihardja, 2000: 59). Hari semakin sunyi, namun hati Hasan saat itu masih bergemuruh mengingat betapa sebal dan kecewanya ia. Ditambah perasaan curiga kepada Rusli dan Kartini yang begitu akrabnya.
âTepat jam dua belas malam, aku melakukan lagi sembahyang taatâ (Mihardja, 2000: 60). Agar hati Hasan tenang, Hasan melakukan ibadah malam dan tidak lupa ia memanjatkan doa dengan khidmat agar Allah SWT memberikan hidayah pada Rusli dan Kartini agar mereka senantiasa diberi petunjuk ke jalan yang benar.
âAh maaf saja, karena malam kurang terang, saya tidak lekas mengenal tuanâ (Mihardja, 2000: 82). Kartini bertemu dengan Hasan di tepi jalan. Awalnya mereka tidak saling mengeatahui karena keadaan malam yang cukup gelap dan menyembunyikan wajah mereka. Namun saat Kartini meminta bantuan pada lelaki di hadapannya (Hasan) untuk mengantarkannya pulang ke alamat yang disebutkan, barulah Hasan mengetahui bahwa dia Kartini dan begitu pula sebaliknya.
âAku termangu-mangu saja, seperti terpesona, dan baru sadar, ketika lampu di rumah Kartini padamâ (Mihardja, 2000: 86). Setelah Kartini sampai di rumahnya dengan diantarkan oleh Hasan, Kartini masuk. Membiarkan sosok Hasan berdiam diri di luar yang ternyata sedang melamun dan tersenyum saking senangnya ia malam itu. Sejenak Kartini mematikan lampu di rumahnya, lalu tersadarlah Hasan dari lamunannya.
âBaru jam setengah sembilan aku dan Kartini bangkit dan berpamit duluan, sebab hendak nonton bioskopâ (Mihardja, 2000: 119). Pada pukul seperti pada kalimat yang dikutip di atas, Hasan dan Kartini pergi menonton bioskop. Saat itulah yang menunjukkan bahwa mereka pergi ketika malam hari.
âBila aku mengangkat kepala lagi serta menoleh kepada Kartini, maka kulihat dia masih menengadah ke langit, menatap bulanâ (Mihardja, 2000: 124). Sejenak mereka duduk pada sebuah bangku di taman setelah pulang dari bioskop hanya untuk saling berbagi cerita di bawah sinar bulan.
âMalam itu, setelah kenyang makan, Anwar lantas bermohon diri hendak mencari bantalnyaâ (Mihardja, 2000: 138). Anwar yang sedang menginap di rumah Hasan saat itu, sedikit merasakan pening di kepalanya. Sehingga setelah makan malam, ia ingin saja menghilang dalam kamar.
âKira-kira pukul dua belas, aku belum juga tidurâ (Mihardja, 2000: 138). Memikirkan baru pertama kali itu ia meninggalkan Kartini di Bandung, membuat ia tak bisa memejamkan matanya meski sudah sering menguap hingga pukul dua belas itu karena hati dan pikirannya yang selalu tertuju pada Lengkong Besar diBandung (alamat Kartini).
âMalam itu malam jernih. Bintang bertaburan di langit, bulan tidak adaâ (Mihardja, 2000: 139). Begitu suasana saat Anwar dan Hasan berdiri menikmati pemandangan malam hari itu. Hasan mengarahkan pandangan ke arah barat-laut. Sekali lagi, ke arah Bandung. Ke arah Lengkong Besar dengan perasaan rindu yang mendalam.
âSaya siapa? Dan mau kemana malam-malam?!â (Mihardja, 2000: 141). Hasan dan Anwar berjalan dalam lorong kecil yang biasa disebut jalan rondaan. Tak disangka, mereka bertemu dengan penjaga jalan itu dan sempat bercekcok karena saling salah paham. Namun akhirnya mereka berdamai juga.
âAcapkali kami meletus dalam tertawa yang berderai-derai di malam sunyiâ (Mihardja, 2000: 143). Setelah kejadian tersbeut, mereka duduk pada sebuah gubug dengan dua orang lainnya, Pak Ahim dan Pak Artasan. Sambil menghisap rokok, keempatnya duduk dengan berbincang dan bercerita sampai tertawa terbahak.
âMalam jumat? Sekarang malam apa?â (Mihardja, 2000: 147). Pembicaraan mereka mulai sedikit menegangkan. Karena mereka berbincang mengenai ketahyulan pada malam jumat atau malam selasa.
âAnwar menyorotkan lampunya dari tepi lorong ke dalam gubugâ (Mihardja, 2000: 147). Terang saja, Anwar bersikeras tentang omongan mereka sebelumnya. Dan mengajak rekan-rekannya untuk membuktikan ketahyulan tersebut benar adanya atau tidak.
âKelelawar beterbangan ketakutan melihat cahaya yang tiba-tiba ituâ (Mihardja, 2000: 150). Anwar menyorotkan lampu senternya lebih bersemangat karena sudah menemukan tempat yang dituju. Namun ternyata lampu senternya itu sempat menyorot pada segerombol keleawar yang hinggap hingga mereka terbang ketakutan.
âSemalam-malaman (malam penghabisan di Panyeredan) aku tidak bisa menutup mata lagi barang sejenakâ (Mihardja, 2000: 156). Sampailah Hasan di Bandung kembali. Namun hatinya tetap merasa tidak tenang sampai ia terjaga kembali malam harinya, memikirkan kejadian sebelumnya antara ia dan ayahnya yang sempat berdebat mengenai beda faham yang mulai merenggut diri Hasan.
âHari sudah hampir pukul sebelas malam. Sudah sunyi benar, seperti biasanya pada malam setelah hujan lebatâ (Mihardja, 2000: 174). Di sinilah pengarang menceritakan bagaimana suasana malam itu dengan detil. Saat Hasan dan Kartini mulai menjalin hubungan rumah tangga dan sempat berdebat hingga membuat Hasan kembali terjaga dan merenung atas kesalahannya hari itu.
âTerbayang-bayang lagi dalam hayalan Kartini bersama Anwar. Bersama si Anwar pada malam ini, pada saat aku sedang duduk menunggu-nungguâ (Mihardja, 2000: 177). Pikiran Hasan semakin kacau. Di sisi lain, ia merasa bersalah pada Kartini hari itu. Namun sebentar-sebentar ia juga terbayang akan kelakuan Kartini dan Anwar hingga membuatnya merasa pusing kepalanya dan panas hatinya.
âPersis pukul tiga malam, saya tamat membaca naskah Hasan ituâ (Mihardja, 2000: 183). Sang pengarang nyatanya sudah selesai membaca karang Hasan dan tetap merasa belum mengantuk. Entah karena sudah lewat waktunya, ataupun karena pengarang terbelenggu oleh isi karangan itu.
âBeberapa hari kemudian Hasan datang lagi ke rumahku. Juga pada malam hari lagiâ (Mihardja, 2000: 184). Hasan berkunjung lagi ke rumah sang pengarang. Tepat pada malam hari dan juga menganakan pakaian yang sama seperti ia bertemu dan memberikan karangannya pada sang pengarang.
âKusir mencambuk kudanya. Tar! Tar! Kuda lari di atas aspal dalam malam yang sunyiâ (Mihardja, 2000: 209). Sesegera mungkin Kartini lari dari hadapan Anwar yang berusaha memperkosanya. Ia menaiki delman yang kebetulan lewat. Tak habis pikir ia dengan Anwar yang ia kira awalnya sudah berbaik hati padanya untuk menawarkan tinggal pada sebuah penginapan. Sebab ia baru saja pergi dari rumahnya.
âDan di sana, di atas aspal hitam itu, terlihatlah cahaya bulat-bulat seperti bulan purnama yang sedang pudar cahanyaâ (Mihardja, 2000: 211). Begitu suasana malam di gedung stasiun. Di mana Hasan tertatih-tatih hendak pulang ke rumahnya di Tegallega saat itu, rumah yang ia diami semenjak ia bercerai dengan Kartini.
âAngin malam menyisir dingin ke dalam perlindunganâ (Mihardja, 2000: 217). Angin malam itu sampai membuat Hasan menggigil kedinginan dan berlindung pada orang gemuk di sebelahnya. Sambil merenung akan penyesalannya sesaat setelah ayahnya menghembuskan napas terakhir sambil larut dalam kekecewaan dan amarahnya pada Hasan yang mulai menjadi seorang atheis.
âRrrrttt, lampu-lampu semuanya padam. Gelita turun menyelimuti kotaâ (Mihardja, 2000: 231). Sirene tanda bahaya udara mengagetkan penduduk malam itu. Langit yang sudah gelap gulita, semakin gelap saja saat pasukan Jepang bertindak. Diceritakan bahwa saat itu Hasan sedang lari untuk membalas dendam. Ia pun sampai tak menghiraukan tanda itu. Sampai ia akhirnya tertangkap dan tertembak. Rupanya gulita malam itu dikisahkan menjadi malam terakhirnya ia hingga mengucap âAllahu akbarâ di sisa akhir napasnya.
3.3.3. Latar Suasana
3.3.3.1. Menyedihkan
âBercucuran air matanya. Ia seakan-akan berpijak di atas dunia yang tidak dikenalnya lagi. Hampa, kosong, serba kabur seperti di dalam mimpiâ (Mihardja, 2000: 10). Sembari berjalan tertatih-tatih didampingi Rusli dan sang pengarang, Kartini menangis dalam kehampaannya. Sebab Hasan yang sudah tiada dan semua penyesalannya.
âKetika itu aku ditimpa oleh suatu kesedihan yang rupanya takkan berbeda dengan kesedihan Sri Rama ketika ia mengetahui, bahwa kekasihnya Dewi Sinta diculik oleh Rahwana. Ketika itu Rukmini dipaksa kawin oleh orang tuanyaâ (Mihardja, 2000: 48). Rukmini dan Hasan awalnya adalah sepasang kekasih. Mereka juga terikat oleh karena tujuan mereka yang sama. Yaitu ingin memajukan ajaran agama mereka. Namun akhirnya mereka berpisah oleh karena orang tua masing-masing pihak yang tidak menyetujui huibungan mereka.
âTapi dengan demikian kesedihan Hasan itu malah makin menjadi-jadi. Pedih rasa hatinya bukan terutama oleh karena ia diusir akan tetapi oleh karena insyaflah ia, bahwa selama itu ia telah membikin ayahnya menderita berat, berhubung dengan perselisihan faham yang mengenai kepercayaan agamanya ituâ (Mihardja, 2000: 217). Hasan menyesal sejadi-jadinya karena telah membuat ayahnya semakin terpuruk dan kecewa. Di samping itu juga karena faham barunya yang telah membuat hidupnya semakin lama semakin menderita.
3.3.3.2. Menegangkan
âBaru saja pintu itu setengah terbuka, aku sudah menubruk ke dalam seperti seekor harimau yang sudah lapar mau menyergap mangsanya. Tar! Tar! Kutempeleng Kartiniâ (Mihardja, 2000: 173). Karena mengira Kartini telah berselingkuh dengan pria lain, Hasan mengamuk pada Kartini. Ia menampar Kartini dan menyiksanya tanpa ampun.
âKutendang, kusepak badan yang berlumuran darah tak bernyawa lagi itu! Aku puas dengan pembalasanku itu! Tiada sesal sedikit pun! Tiada belas seujung rambut!â (Mihardja, 2000: 180). Tak disangka, ternyata Hasan tega sekali hingga membunuh orang yang dikiranya sudah menjadi selingkuhan Kartini. Tak berbasa-basi, langsung saja ia membalaskan dendamnya pada pria itu dengan tanpa rasa sesal sedikitpun setelah melakukannya.
âKartini menjadi sangat takut. Dilihatnya Anwar bersinar-sinar matanya seperti mata singa yang hendak menerkamâ (Mihardja, 2000: 208). Setelah ditawarkan untuk tinggal di sebuah penginapan oleh Anwar, rupanya Anwar mempunyai maksud buruk pada Kartini yaitu ingin memperkosanya. Hal itu tentu membuat Kartini sangat takut dan khawatir.
âkusir mencambuk kudanya. Tar! Tar! Kuda lari di atas aspal dalam malam yang sunyi. Ketepak-ketepak! Ketepok-ketepok! Seirama dengan tepukan hati Kartini . . . .â (Mihardja, 2000: 209). Saking takutnya, Kartini berusaha mati-matian untuk bisa kabur dari cengkeraman Anwar, dan sesegera mungkin meninggalkan tempat itu dengan menaiki delman yang kebetulan lewat di hadapannya.
âSeorang keibodan berteriak-teriak sambil lari ke sana ke mari dengan corong pengeras suara. Rrrrtt, lampu-lampu semuanya padam. Gelita turun menyelimuti kota. Orang-orang berlarian mencari perlindunganâ (Mihardja, 2000: 231). Suasana dalam malam hari itu itu mulai menjad tak karuan. Semenjak pasukan Jepang Kusyu-Keiho menurunkan tanda bahay udara, seluruh penduduk menjadi takut dan khawatir.
3.5. Pembahasan Sudut Pandang Novel Atheis
Di dalam novel Atheis, selain menggunakan gaya âsayaâ sebagai sudut pandang orang pertama pelaku sampingan dan âakuâ sebagai sudut pandang orang pertama pelaku utama, juga menggunakan gaya âdiaâ sebagai sudut pandang orang ketiga. Pernyataan tersebut dapat dibuktikan melalui kutipan berikut.
a. Gaya âsayaâ sebagai sudut pandang orang pertama pelaku sampingan. âSaya mengerti. Hasan terlalu perendah hati untuk memberi jawaban yang lain bunyinyaâ (Mihardja, 2000: 14). âSayaâ di novel ini berkedudukan sebagai pengarang yang menempatkan dirinya sebagai tokoh sampingan yang menceritakan kembali tokoh âakuâ yang sebenarnya adalah tokoh Hasan.
b. Gaya âakuâ sebagai sudut pandang orang pertama pelaku utama. âAku, masih ingat hari berangkatnya. Subuh-subuh benar mereka sudah berangkat dari rumah hendak memburu kereta api yang paling pagi. Aku terbangun oleh keributan orang=orang yang berkemas-kemasâ (Mihardja, 2000: 19).
c. Gaya âdiaâ sebagai sudut pandang orang ketiga. âAkan tetapi kepada siapakah ia harus menebus dosanya, harus menyatakan sesalnya, apabila orang terhadap siapa ia berbuat dosa itu sudah tidak lagi, sudah meninggal dunia?â (Mihardja, 2000: 09).
Dengan demikian, pusat pengisahan atau point of view pada novel Atheis ini ialah multiple atau campuran antara gaya âsayaâ, âakuâ, dan âgaya diaâ. Dengan gaya ini maksud yang terkandung di dalam Atheis menjadi jelas. Walaupun banyak dan bermacam-macam masalah yang ditampilkan, dengan gaya penuturan, semua persoalan dapat dimengerti secara sistematis dan terperinci.
3.6. Pembahasan Alur atau Plot Cerita Novel Atheis
Pada novel Atheis, urutan peristiwa dirangkaikan secara rinci. Tampak pada uraian berikut ini.
3.6.1. Penyelesaian (Bagian I)
Bagian I tentang Pengarang dan Hasan. Hasan meninggal dunia. Sambil menangis, Kartini meninggalkan gedung Ken Peitai didampingi oleh Rusli dan pengarang. âHasan telah meninggal dunia. Di mana ia dikubur? Entahlah. Kapan tewasnya? Entahlah. Selaku orang sakit oleh seorang juru rawat, demikianlah Kartini ditopang dan dibimbing oleh Rusli. Saya mengintil di sampingnyaâ (Mihardja, 2000: 10).
3.6.2. Peleraian (Bagian II)
Bagian II berupa naskah yang ditulis Hasan serta juga menceritakan tokoh âakuâ (pengarang) dan Hasan. âBaru satu bulan saya berkenalan dengan Hasan. Pada suatu malam datang lagi ia ke rumahkuâ (Mihardja, 2000: 13). âSemalam-malaman itu saya baca naskah Hasan itu sampai tamat. Rupanya itu sebuah âDichtung und Wahrheitâ dengan mengambil sebagai pokok lakom dan pengalaman Hasan sendiri. Jadi semacam âautobiographical novelâ. Inilah naskahnyaâ (Mihardja, 2000: 15).
3.6.3. Perkenalan (Bagian III)
Melalui naskah Hasan yang bergaya âakuâ, pengarang memperkenalkan siapa dan dari mana tokoh utama Hasan. Hasan putra seorang pensiunan mantri guru bernama Raden Wiradikarta, yang bertempat tinggal di kampung Panyeredan (Mihardja, 2000: 16). Untuk menemani Hasan, orang tuanya mengambil Fatimah menjadi anak pungut (Mihardja, 2000: 20). Sejak berusia lima tahun Hasan telah mendapat pendidikan agama secara intensif (Mihardja, 2000: 21). Setelah tamat dari Mulo, Hasan bekerja di kantor Kotapraja, jawatan pengairan (Mihardja, 2000: 25)
3.6.4. Konflik 1 (Bagian IV)
Peristiwa yang bersangkut paut mulai bergerak pada bagian ini. Hasan berjumpa dengan sahabat lamanya, Rusli dan juga dengan Kartini (Mihardja, 2000: 31-32). Hasan tertarik pada Kartini yang mirip dengan kekasihnya Rukmini. âTerkejut aku sejenak, ketika aku melihat perempuan di belakangnya itu. Hampir-hampir aku hendak berseru. Kukira Rukmini..â (Mihardja, 2000: 30). âAduh, betapa persis ia menyerupai âdiaâ!â (Mihardja, 2000: 39). âRiang aku, apabila terkenang-kenang kepada Kartini yang sejak malam itumakin mengikat hatiku sajaâ (Mihardja, 2000: 87).
Sampai di sini, pengarang menengok ke peristiwa putusnya hubungan Hasan dengan Rukmini, yang mendorong Hasan memasuki aliran mistik.
3.6.5. Konflik 2 (Bagian V)
Hubungan Hasan dengan Kartini dan Rusli makin hari makin akrab. Makin hari makin bertambah teman Rusli yang dikenal Hasan antara lain Anwar yang juga atheis. ââPerkenalkan dulu. Saudara Anwar, seniman anarkhis dari Jakarta,â kata Rusli. Sambil tertawa ia berjabatan dengan kamiâ (Mihardja, 2000: 101). ââKalau menurut saya,â sambung Anwar, âTuhan itu adalah aku sendiriâ (Mihardja, 2000: 104).
3.6.6. Konflik 3 (Bagian VI)
Peristiwa yang bersangkut paut dengan masalah pokok ini bergerak sampai pada bagian ini. Hasan sudah tidak mampu lagi melupakan Kartini. âKartini pun rupanya sudah merasa pula apa yang terkandung dalam hatiku ituâ (Mihardja, 2000: 110) âPendek kata, makin lama aku bergaul dengan dia, makin tumbuh cintaku kepadanya, dan makin besar pula pengaruhnya atas dirikuâ (Mihardja, 2000: 110)
3.6.7. Konflik 4 (Bagian VII dan VIII)
Keadaan mulai memuncak (Ricing action). Terdorong oleh cintanya kepada Kartini, Hasan membiarkan ajaran agamanya dinjak-injak oleh teman-temannya. Sebaliknya Hasan mulai tertarik pada isi omongan Rusli yang menguraikan ajaran marxisme. Makin banyak teman Rusli yang dikenalnya yakni Bung Sumi, Bung Gondo, Bung Bakri, Bung Parta. âDi rumah Rusli sudah banyak âkawan-kawanâ berkumpul ketika aku bersama Kartini datang ke sanaâ (Mihardja, 2000: 111). âSesungguhnya aku mau mendebat atau sekurang-kurangnya mau bertanya, akan tetapi ketika melihat Rusli dan Kartini yang nampaknya setuju dengan ucapan Bung Parta itu, maka pikiran-pikiran dan pertanyaan-pertanyaanku hanya sampai di dalam hati sajaâ (Mihardja, 2000: 115). âDan apa salahnya, kalau mereka sudah pernah mengemukakan pendapat, bahwa Tuhan itu madat, kenapa sekarang aku harus hiraukan benar, kalau mereka berpendapat, bahwa Tuhan itu teknikâ (Mihardja, 2000: 115).
Banyak tingkah laku dan sikap Kartini yang bertentangan dengan ajaran agama Islam, Hasan tidak mampu lagi membendung cintanya kepada Kartini. Hasan sudah meninggalkan solat, tidak berpuasa, bahkan tidak segan-segan mengusir peminta-minta. â Empat bulan yang lalu aku masih meloncat dari kursiku mendengar tabuh berbunyi itu, lekas-lekas bergegas ke kamar mandi mengambil air wudhu. Tapi sekarang aku tetap saja terpaku pada kursikuâ (Mihardja, 2000: 118-119). âDan dalam berjejal demikian Kartini erat sekali memegang tangankuâ (Mihardja, 2000: 119). âSeperti lima-enam bulan yang lalu aku sangat rajin beribadat, melakukan sembahyang, puasa dan lain-lain, maka sekarang aku rajin membaca buku dan bertukar pikiran dengan Rusli atau kawan-kawan lainâ (Mihardja, 2000: 128). âSembahyang hanya kadang-kadang saja kulakukan. Puasa sama sekali sudah kupandang suatu perbuatan yang sesat. Dan kalau dulu aku suka memberi uang kepada fakir miskin, maka sekarang aku tidak merasa segan-segan lagi mengusir orang minta-mintaâ (Mihardja, 2000: 128).
3.6.8. Klimaks (Bagian IX, X, XI, XII, dan XIII)
Puncak tertinggi pertentangan (klimaks) di dalam novel Atheis mulai terjadi pada bagian IX, dan dilanjutkan pada bagian X sampai dengan XIII. Pada bagian ini pertentangan mencapai intensifikasi tertinggi. Hasan bersama Anwar pulang ke Panyeredan. âDengan delman itu kami dibawa ke kampung Panyeredanâ (Mihardja, 2000: 131). Di hadapan orang tuanya, Hasan menjalankan sholat seperti biasanya. Setelah diejek oleh Anwar dan khawatir kalau hal ini disampaikan kepada Kartini dan Rusli, dengan tegas ia mengatakan kepada Anwar bahwa dia sholat tadi hanya untuk bersandiwara saja. ââAku sembahyang sekedar jangan menyinggung hati orang tuaku saja.ââ (Mihardja, 2000: 136). âDalam lingkungan pergaulan dnegan Bung Rusli, Kartini dan kawan-kawan lain tidak pernah sembahyang. Tapi sekarang, dengan mendadak kau tiba-tiba menjadi orang alimâ ââAku sembahyang sekedar jangan menyinggung hati orang tuaku saja.ââ (Mihardja, 2000: 136). âTapi tenang saja kujawab, âMemang aku pun tahu, bahwa aku bermain sandiwara dengan diriku sendiri. Tapi itu terpaksa.ââ (Mihardja, 2000: 137).
Pada malam ketiga, terjadi perdebatan antara Hasan dan ayahnya. Ayahnya mengetahui bahwa anaknya tidak patuh lagi terhadap orang tua dan ajaran agama, lalu mengambil keputusan untuk memutuskan hubungan dengan putra satu-satunya. (Mihardja, 2000: ).
Pada salah satu bagian pengarang menceritakan terjadinya perkawinan Hasan dengan Kartini, (Mihardja, 2000: 164), yang berakhir dengan pertengkaran yang hebat. âDengan hilangnya kepercayaan dan timbulnya kecurigaan antara kami, maka api neraka sudah sampai kepada puncaknya. Memang hancurlah segala perhubungan, segala pergaulan apabila dasarnya yang mutlak, yaitu kepercayaan sudah tidak ada lagiâ (Mihardja, 2000: 169). Peristiwa ini merupakan salah satu puncak yang tragis ditinjau dari segi tema sebab hal ini menunjukkan adanya kehancuran akibat ketidakadanya keseimbangan sikap hidup yang dialami Hasan.
3.6.9. Peleraian dan Penyelesaian (Bagian XIV, XV, dan I)
Penyelesaian persoalan-persoalan ditampilkan pada bagian isi. Sejak terjadi pertengkaran, Kartini pergi meninggalkan rumah tanpa setahu Hasan. âSore itu, setelah berkelahi dengan Hasan, Kartini dengan bersedih hati lalu meninggalkan rumahnya. Hasan lagi ke belakang, ketika Kartini menyelinap diam-diam meninggalkan rumahnyaâ (Mihardja, 2000: 199).
Dalam perjalanan, atas bujukan Anwar, Kartini bermaksud bermalam di salah satu penginapan (Mihardja, 2000: 204). Oleh karena akan diperkosa oleh Anwar, Kartini lari meninggalkan penginapan dan pergi ke Kebun Mangga (Mihardja, 2000: 208-209).
Bagi Hasan perceraian itu mendorong Hasan kembali ke jalan hidup yang pernah ditempuhnya. Ia ingat kembali kepada Tuhan. Dikutuknya teman-temannya yang dianggap telah menyesatkan. (Mihardja, 2000: 216-217). Sampai di sini pengarang meyelipkan penyelesaian bagi ayah Hasan yaitu meninggal dunia (Mihardja, 2000: 221-222). Seminggu setelah kematian ayahnya, Hasan kembali ke Bandung. Di tengah jalan, ia terpaksa harus menginap di salah satu penginapan. Dari daftar nama tamu, ia tahu bahwa Kartini pernah berada di situ bersama Anwar. Hasan lari meninggalkan penginapan itu sebab tak kuasa mengendalikan rasa cemburu dan amarahnya. Tanda bahaya udara tidak diperhatikannya. Akhirnya, ia jatuh tersungkur berlumuran darah, pahanya sebelah kiri tertembus peluru. Pada bagian I diceritakan Hasan meninggal dunia. Mendengar berita kematian Hasan, Kartini sangat sedih dan menyesal. Dengan dibimbing oleh Rusli dan pengarang.
Dari uraian di atas, berdasarkan peristiwa-peristiwa pada novel Atheis yang disusun tidak berurutan, maka dapat disimpulkan bahwa novel Atheis berplot sorot balik atau flash back. Pada dasarnya bab pertama adalah bab penutup. Dapat kita lihat kematian tokoh Hasan sebagai akibat penyiksaan polisi militer Jepang, sekaligus penyesalan Kartini yang telah menyia-nyiakan Hasan, suaminya, adalah kesimpulan cerita secara keseluruhan. Di satu pihak, kematian Hasan secara tragis berfungsi untuk menebus dosa-dosanya sebab telah meninggalkan jalan Tuhan menempuh jalan Marxisme.
3.7. Pembahasan Amanat Novel Atheis
Banyak sekali kita jumpai pesan-pesan yang terkandung dalam novel karya Achdiat K. Mihardja. Di samping kita harus percaya akan suatu pedoman hidup kita yakni sebuah agama dan juga harus percaya akan adanya Tuhan, kita juga harus memiliki wawasan yang cukup luas serta berpegang teguh pada prinsip yang kita miliki. Jangan suka meniru semua hal yang pada dasarnya hanya ingin mampir dalam lingkungan kita dan ujung-ujungnya malah menjadi boomerang bagi diri kita. Sebagai perantara dalam berprinsip dan berpegang teguh adalah melewati sikap yang orang tua kita berikan pada kita. Karena sesungguhnya, tidak ada orang tua yang menginginkan anaknya sesat di jalan kelak. Maka dari itu, turutilah apapun perintah ayah dan ibumu.
Di lain hal yakni pandangan dalam hal percintaan, setiap nabi, raja, bangsawan, dan sebagainya semuanya pastilah mempunyai suatu rasa kasih sayang atau rasa cinta. Entah itu pada sesamanya atau pada lawannya. Namun sungguh alangkah baiknya jika rasa kasih sayang itu juga diungkapkan serta ditujukan pada Tuhan kita. Agar kita senantiasa diberi kebahagiaan dan kemudahan.
 
 

Pengumuman PPMB

 

Artikel Popular

  • TUGAS SISWA KELAS XI
    TUGASSISWAXI - 13-01-2013 11:26:25  (132)
  • FAKTA & OPINI
    Tugassiswa - 18-07-2011 12:17:35  (119)
  • MENULIS SURAT LAMARAN PEKERJAAN
    TUGAS SISWA KELAS XII - 25-01-2013 17:08:37  (96)
  • KARYA TULIS ILMIAH
    ARTIKEL - 31-01-2012 10:02:57  (63)
  • TUGAS SISWA XII.2
    Tugassiswa - 20-09-2011 11:11:12  (59)
 
 
 

Musik

 
Home | Profil | Pengumuman

Copyright © 2011 Unair | Designed by Free CSS Templates